KBEONLINE.ID JAWA BARAT – Selama ini Sungai Citarum lebih sering dikenal sebagai sungai terpanjang dan paling penting di Jawa Barat. Namun di balik perannya sebagai sumber air bagi jutaan penduduk, tersimpan fakta yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat.
Membentang sepanjang sekitar 270 kilometer dari hulu di kawasan pegunungan Bandung Selatan hingga bermuara di Laut Jawa, Citarum bukan sekadar aliran air. Sungai ini merupakan urat nadi kehidupan, saksi perjalanan peradaban tanah Pasundan, sekaligus rumah bagi beragam satwa liar yang masih bertahan di tengah tekanan pembangunan dan aktivitas manusia.
Perjalanan Citarum dimulai dari kawasan Situ Cisanti di kaki Gunung Wayang. Dari titik inilah air yang jernih mengalir membentuk sungai besar yang melintasi berbagai bentang alam, mulai dari hutan pegunungan, waduk raksasa, kawasan pertanian hingga wilayah pesisir utara Jawa Barat.
Baca Juga:Rekomendasi Liburan Murah di Jonggol! Kolam Renang Batu Gede Tawarkan Kesegaran Mata Air Alami dan Sawah IndahSentuhan John Herdman Berbuah Manis! Timnas Indonesia Tampil Dominan Hajar Oman 3-0 di Gelora Bung Karno
Hulu Citarum Benteng Terakhir Satwa Langka Jawa
Di kawasan hulu, Citarum masih dikelilingi hutan tropis yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air alami. Vegetasi yang rapat menjaga pasokan air tetap bersih sekaligus menjadi habitat berbagai satwa liar khas Pulau Jawa.
Salah satu penghuni kawasan ini adalah ikan hampala, predator air tawar yang hidup di sungai berarus deras dan kaya oksigen. Keberadaan ikan ini menjadi indikator bahwa kualitas air masih terjaga dengan baik.
Tak hanya di dalam air, langit hulu Citarum juga menjadi wilayah berburu bagi Elang Jawa. Burung yang sering disebut sebagai inspirasi lambang Garuda ini termasuk satwa langka yang keberadaannya sangat bergantung pada kelestarian hutan pegunungan.
Lebih mengejutkan lagi, kawasan hulu juga masih menjadi habitat Macan Tutul Jawa. Predator puncak tersebut hidup secara soliter di dalam hutan lebat dan berperan menjaga keseimbangan ekosistem dengan mengendalikan populasi satwa mangsa.
Di beberapa lokasi, warga bahkan mengenal keberadaan macan kumbang, yakni macan tutul dengan kelainan genetik melanisme yang membuat warna bulunya tampak hitam pekat. Sosoknya yang misterius kerap menjadi bagian dari cerita masyarakat sekitar hutan.
Kanopi hutan hulu juga diramaikan oleh kawanan Lutung Jawa yang bergelantungan mencari daun muda dan buah-buahan. Uniknya, anak lutung lahir dengan bulu berwarna oranye terang sebelum berubah menjadi hitam saat dewasa.
