Jika angka tersebut benar maka konsekuensinya sangat besar bagi sejarah dunia. Artinya manusia sudah mampu membangun struktur monumental ribuan tahun sebelum lahirnya berbagai peradaban besar yang selama ini dikenal dalam buku sejarah. Bahkan usia tersebut jauh melampaui Piramida Mesir yang diperkirakan berumur sekitar 4500 tahun.
Klaim inilah yang kemudian membuat Gunung Padang mendadak menjadi perhatian dunia. Banyak pihak mulai menyebutnya sebagai kandidat piramida tertua di muka bumi. Berbagai media internasional ikut memberitakan temuan tersebut sehingga nama Gunung Padang semakin terkenal.
Arkeolog Dunia Langsung Menolak Kesimpulan Tersebut
Meski terdengar spektakuler klaim usia 27000 tahun ternyata tidak diterima begitu saja oleh komunitas ilmiah internasional. Banyak arkeolog menilai kesimpulan tersebut dibuat terlalu cepat dan tidak mengikuti standar metodologi arkeologi yang berlaku secara global.
Baca Juga:INFO LOKER KARAWANG : PT Sumber Cipta Multiniaga Buka Kesempatan Kerja untuk Posisi CanvasserFULL TIME: Indonesia Bungkam Mozambik 1-0, Gol Ole Romeny Antar Garuda Raih Kemenangan
Menurut para pengkritik material yang diuji bukanlah artefak buatan manusia melainkan tanah dan material organik yang terjebak di sela-sela batuan. Dalam ilmu geologi kondisi seperti itu bisa terjadi secara alami tanpa harus melibatkan aktivitas manusia.
Mereka berpendapat usia tanah tidak bisa otomatis dianggap sebagai usia bangunan yang berada di atasnya. Sebuah situs bisa saja berdiri di atas lapisan tanah yang jauh lebih tua tanpa memiliki hubungan langsung dengan usia tanah tersebut. Inilah alasan utama mengapa banyak arkeolog dunia menolak klaim bahwa Gunung Padang dibangun 27000 tahun lalu.
Tidak Ditemukan Jejak Peradaban Besar di Lokasi
Penolakan para arkeolog juga didasarkan pada minimnya bukti pendukung yang biasanya ditemukan pada situs peradaban besar. Hingga saat ini belum ditemukan fosil manusia penghuni situs dari periode 27000 tahun lalu maupun bukti aktivitas sosial dalam skala besar.
Tidak ditemukan pula sisa permukiman kuno alat pertukangan dalam jumlah besar pecahan tembikar ataupun bukti aktivitas domestik yang biasanya menjadi ciri keberadaan sebuah peradaban maju. Padahal jika benar ada pembangunan struktur raksasa pada masa itu seharusnya berbagai jejak kehidupan manusia juga ikut ditemukan.
Ketiadaan bukti-bukti tersebut membuat banyak peneliti memilih bersikap hati-hati. Mereka menganggap data yang ada saat ini belum cukup untuk mendukung klaim luar biasa tentang keberadaan peradaban maju pada masa Zaman Es di kawasan Nusantara.
