DUNIA pendidikan di wilayah karawang saat ini menghadapi tantangan ganda yang tidak sederhana. Di satu sisi, sebagai daerah industri teknologi dan siap bersaing secara global. Namun di sisi lain, kita menyaksikan sebuah fenomena “kerapuhan etika” di media sosial yang seringkali melibatkan anak-anak usia sekolah dasar.
Sebagai akademisi sekaligus praktisi yang setiap hari berdiri di depan kelas sekolah dasar (SD), saya melihat adanya benang merah yang sering terputus, yakni bagaimana teori manajemen pendidikan di kampus diimplementasikan secara nyata dalam pembentukan karakter anak di sekolah.
Bukan Sekadar Kertas Kerja
Dalam disiplin manajemen pendidikan islam (MPI) Perencanaan adalah langkah awal yang menentukan 50% keberhasilan tujuan. George R. Terry dalam teori manajemennya menegaskan bahwa perencanaan adalah dasar dari seluruh proses organisasi. Namun, dalam realitasnya di sekolah, perencanaan sering kali hanya dianggap sebagai beban administratif. Guru-guru terjebak dari tumpukan berkas RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) demi memenuhi syarat sertifikasi atau supervisi.
Baca Juga:Dukung Program Wajib Belajar 13 Tahun, Karawang Percepat Implementasi Wajib Belajar Satu Tahun Prasekolah Jadwal Lengkap Layanan SIM Keliling di Bekasi Hari Ini 12 Juni 2026, Cek Syarat-syaratnya!
Padahal bagi anak usia SD yang berada pada fase operasional konkret, perencanaan adalah “sekenario perubahan”. Tanpa perencanaan yang matang, proses belajar hanya akan menjadi transfer pengetahuan yang kering. Data dari Rapor pendidikan nasional seringkali menyoroti rendahnya literasi dan numerasi. Namun, ada satu hal yanglebih mendasar dari sekedar angka, yaitu bagaimana rencana pembelajaran disusun untuk menyentuh aspek moral feeling dan moral action, sebagaimana yang ditekankan oleh pakar pendidikan karakter, Thomas Lickona.
Integritas Pendidikan Agama Islam dalam Era Disrupsi
Di sinilah peran pendidikan agama islam menjadi krusial. Peencanaan pendidikan islam tidak boleh kaku. Ia harus mampu menjawab tantangan zaman. Data dari Kemenkominfo mengenai Indeks Literasi Digital Indonesia menunjukkan bahwa pilar “Digital Ethics” atau etika digital masih menjadi titik lemah.
Anak-anak SD di karawang misalnya sangat akrab dengan gawai, namun belum tentu memiliki filter mental yang cukup. Di sinilah peran guru sebagai “arsitek peradaban”. Dalam setiap modul perencanaan yang saya susun, nilai-nilai PAI harus menjadi ruh, bukan sekedar tempelan. Mengajarkan kejujuran, disiplin, dan empati harus direncanakan secara sistematis melalui metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, bukan lagi sekedar ceramah searah.
