Lalu Bagaimana Solusinya?
“Bermain” solusinya. Anak usia dini memiliki dunia Bermain sambil Belajar, bermain permainan tradisional adalah salah satu solusi untuk mengenalkan anak angka, warna, huruf, bangun ruang. Dan mengenalkan permainan tradisional pada anak, karena anak-anak jaman sekarang belum memahami adanya permainan tradisional. Salah satunya permainan tradisional engklek, dari bermain engklek anak dapat belajar banyak selain melatih keseimbangan dan kekuatan kaki dengan bermain engklek anak dapat menggerakkan seluruh tubuhnya mulai dari membungkuk untuk mengambil batu, melempar batu pada kotak yang tersedia dengan satu tangan, melompat dengan satu kaki sambil berhitung batunya ada dikotak nomer berapa. Melalui kegiatan permainan engklek yang terus berulang seperti itu anak dapat mengenal angka yang tertulis dalam kotak engklek, mengenal warna pada setiap batu yang dipegang anak, mengenal huruf yang terdapat pada engklek, mengenal bangun ruang dalam bentuk engklek, melatih sosial emosional anak dalam belajar sabar bergiliran dalam permainan.
Sayangnya permainan ini mulai tergeser HP. Padahal 30 menit bermain di luar ruangan setara dengan 1 jam belajar di kelas untuk anak usia dini.
Peran Orang Tua di Rumah
Ayah dan bunda bisa memulainya dengan libatkan anak dalam setiap kegiatan di rumah seperti menyapu, menjemur pakaian, melipat baju, menyiram tanaman, mencuci piring, memetik sayur itu merupakan aktivitas motorik halus dan libatkan anak juga untuk olah raga bersama, berjalan kaki ke masjid, bermain bola, menirukan gerakan, bermain lompat tali itu merupakan aktivitas motorik kasar. Anak yang sering di libatkan dan terpenuhi kebutuhan gerak tercukupi fondasi utamanya akan lahir menjadi anak yang cerdas, kuat, percaya diri dan siap untuk sekolah.
Penutup
Baca Juga:Sinergi Lintas Sektor, Polres Karawang Sukses Gelar Penanaman Jagung SerentakBupati Karawang Pimpin Patroli Gabungan Skala Besar, Perkuat Sinergi Jaga Kondusivitas Daerah
Bergerak untuk masa depan anak yang terstimulasi fisik motoriknya dengan baik akan lebih siap sekolah, lebih percaya diri dan lebih mudah bersosialisasi. Mari kembalikan hak anak untuk berlari, memanjat, jatuh lalu bangkit lagi karena dari gerakan sederhana itu kita sedang mencetak pemimpin yang tidak hanya cerdas tapi juga sehat, kuat raganya dan berakhlak di masa depan. (*)
