MASIH banyak masyarakat yang beranggapan bahwa kuliah di Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) hanya diperuntukkan bagi mereka yang ingin menjadi guru PAUD atau pendidik di lembaga pendidikan anak usia dini. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Sesungguhnya, ilmu yang dipelajari di PIAUD jauh lebih luas dan memiliki manfaat bagi siapa saja, terutama bagi para orang tua sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak.
Anak usia dini berada pada masa emas (golden age), yaitu periode ketika perkembangan otak, karakter, bahasa, moral, sosial, dan spiritual berlangsung sangat pesat. Pada masa inilah fondasi kehidupan seseorang dibangun. Kesalahan pola asuh pada fase ini dapat berdampak hingga dewasa, sedangkan pengasuhan yang tepat akan melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan memiliki kepribadian yang kuat.
Sayangnya, menjadi orang tua tidak pernah mensyaratkan seseorang memiliki bekal ilmu tentang pengasuhan anak. Banyak orang tua yang sangat mencintai anaknya, tetapi belum memahami bagaimana cara mendidik sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Tidak sedikit yang masih menggunakan pola asuh berdasarkan pengalaman masa lalu, mitos, atau sekadar mengikuti tren media sosial yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan anak.
Baca Juga:Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 5 Juli 2026, Ada Hadiah Menarik Spesial Akhir Pekan!Dominasi Popwilda Wilayah II, Karawang Loloskan Tim Basket Putra dan Putri ke Popda Jabar 2027
Di sinilah pentingnya ilmu Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Mahasiswa PIAUD tidak hanya mempelajari cara mengajar di kelas, tetapi juga memahami psikologi perkembangan anak, kesehatan dan gizi, stimulasi tumbuh kembang, pendidikan karakter, komunikasi dengan anak, manajemen emosi, strategi bermain sambil belajar, hingga pendidikan berbasis nilai-nilai Islam. Seluruh ilmu tersebut sangat dibutuhkan oleh setiap keluarga.
Dalam perspektif Islam, pendidikan anak bahkan dimulai sejak dalam keluarga. Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak hanya berada di tangan sekolah, melainkan dimulai dari rumah melalui peran orang tua.
Demikian pula Rasulullah saw. bersabda bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kemudian kedua orang tuanyalah yang membentuk arah kehidupannya. Hadis ini menunjukkan bahwa keluarga merupakan sekolah pertama, sedangkan orang tua adalah guru pertama yang akan menentukan kualitas kepribadian anak di masa depan.
