Menghadapi Era AI: Wamen Dikti Saintek Ungkap Tiga 'Resep' Utama Agar Mahasiswa Tak Tergantikan

Tiga \'Resep\' Utama Agar Mahasiswa Tak Tergantikan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Stella Christie Ungkap Tiga \'Resep\' Utama Agar Mahasiswa Tak Tergantikan. -kbeonline.id-
0 Komentar

“Apakah kita sebagai dosen hanya akan mengajarkan yang itu-itu saja? Kalau kita hanya mengajarkan yang itu-itu saja, saya jamin anak-anak didik Anda tidak akan bisa bersaing dengan AI. Kita harus memikirkan, apakah peran manusia itu sebagai pengawas, atasannya AI, atau sekadar teknisi?” tegasnya.

Mengenai pilar kedua (transmission of knowledge), Wamen Dikti Saintek mengutip pesan berharga dari Presiden Harvard University saat orientasi studinya dulu.

“Waktu hari pertama orientasi, Presiden Harvard University bilang kepada kita: ‘Di Harvard, aset nomor satu kalian bukan profesor kalian, tetapi sesama mahasiswa.’ Jadi kita banyak mendapat pengetahuan bukan saja dari profesor, tapi dari sesama teman,” kenangnya.

Baca Juga:UNSIKA Resmi Buka PKKMB 2026, 4.167 Mahasiswa Baru Siap Menjadi Pelopor Transformasi BerkelanjutanLagi Asyik Maen PS, Tiga Begal Sadis di Bekasi Dibekuk Polisi

Dalam konteks transmisi ini, universitas diimbau untuk menetapkan arah yang jelas mengenai tujuan transfer pengetahuan apakah untuk pengembangan teknologi, pengendalian AI, atau pelestarian ilmu bernilai tinggi. Beliau memberikan contoh pentingnya melestarikan pengetahuan khusus seperti seni batik tulis dan keterampilan panahan yang tetap bernilai tinggi karena kekhasan kearifan manusia yang tak dapat ditiru oleh mesin.

Pilar ketiga yang tidak kalah krusial adalah kurasi pengetahuan (curation of knowledge), yang dipandang paling jarang dipikirkan oleh civitas akademika. Wamen menegaskan bahwa pengetahuan yang sejati bukanlah sekadar akses cepat terhadap tumpukan fakta atau jawaban instan dari aplikasi seperti ChatGPT, melainkan pemahaman mendalam serta kemampuan untuk menguasai dan menjelaskan fenomena tersebut secara kritis.

“Saya rasa pengetahuan berbeda antara benar-benar mengetahui dengan menguasai dan mampu menjelaskan. Kalian tidak akan mampu menjelaskan kalau tugas-tugas dari dosen diberikan ke ChatGPT. Pengetahuan yang sesungguhnya bukanlah daftar fakta, melainkan menemukan dari begitu banyak fakta, mana yang menarik dan perlu diketahui oleh peradaban manusia,” ucap Stella.

Selain membahas aspek akademik, Stella menyampaikan analisa kritis mengenai potensi gelembung ekonomi (economic bubble) pada teknologi AI yang disepadankan dengan dot-com bubble atau fenomena tulip mania di Belanda pada abad ke-17.

“Kita akan tahu berada di dalam bubble jika semua persoalan solusinya hanya satu. Sekarang, pertanyaan ‘bagaimana menyembuhkan kanker’ atau ‘meningkatkan kualitas pendidikan’, jawabannya selalu AI,” katanya.

0 Komentar