Menghadapi Era AI: Wamen Dikti Saintek Ungkap Tiga 'Resep' Utama Agar Mahasiswa Tak Tergantikan

Tiga \'Resep\' Utama Agar Mahasiswa Tak Tergantikan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Stella Christie Ungkap Tiga \'Resep\' Utama Agar Mahasiswa Tak Tergantikan. -kbeonline.id-
0 Komentar

KARAWANG, KBEONLINE.ID — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Stella Christie, menegaskan pentingnya perguruan tinggi dan mahasiswa untuk segera merumuskan modus baru dalam proses pembelajaran guna menghadapi ancaman disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Hal tersebut disampaikannya di hadapan mahasiswa baru Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) sebagai respons atas kekhawatiran meluas terkait potensi peran manusia yang kian tergeser oleh teknologi cerdas.

Ancaman penggantian tenaga kerja manusia oleh AI menurut Wamen Dikti Saintek bukanlah sekadar spekulasi masa depan, melainkan realitas yang tengah berlangsung.

“Fakta dunia pada saat ini, jika kita berada pada jalan yang ada saat ini dan kita teruskan, saya sangat yakin kebanyakan orang akan digantikan oleh AI. Ini bukan menakut-nakuti, tetapi untuk membangkitkan pemikiran Adik-adik sekalian,” ujar Stella, Senin (27/7).

Baca Juga:UNSIKA Resmi Buka PKKMB 2026, 4.167 Mahasiswa Baru Siap Menjadi Pelopor Transformasi BerkelanjutanLagi Asyik Maen PS, Tiga Begal Sadis di Bekasi Dibekuk Polisi

Beliau menyoroti fenomena pasar kerja global saat ini, di mana lulusan Ilmu Komputer pun mulai mengalami kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan akibat kemampuan pengodean (coding) AI yang dinilai lebih cepat dan murah. Beliau mengingatkan,

“Karena kalau untuk coding misalnya, AI jauh lebih jago daripada manusia. Perusahaan yang membutuhkan coder tentu akan memilih AI. Jadi kalau kalian jurusan Ilmu Komputer, kalian harus mempunyai keahlian yang lebih daripada hanya coding,” ungkapnya.

Guna membentengi lulusan perguruan tinggi dari ancaman disrupsi tersebut, Wamen Dikti Saintek merumuskan tiga resep utama yang wajib diterapkan oleh civitas akademika.

“Menurut saya resepnya ada tiga: Creation of knowledge atau menciptakan ilmu, Transmission of knowledge atau mentransmisi pengetahuan, dan Curation of knowledge atau mengkurasi pengetahuan,” tuturnya.

Pada pilar pertama (creation of knowledge), Wamen menjelaskan bahwa keberlanjutan peradaban dan budaya sangat bergantung pada lahirnya inovasi serta ilmu-ilmu baru. Membandingkan era kuliahnya di Harvard University saat laptop dan ponsel cerdas belum ada, beliau menekankan bahwa seluruh teknologi modern saat ini seperti chip, GPS, hingga smartphone lahir dari penciptaan ilmu baru oleh manusia secara berkesinambungan.

Beliau pun mempertanyakan secara kritis peran dosen dan mahasiswa di tengah kemampuan AI yang kini juga sanggup menciptakan pengetahuan baru.

0 Komentar