KBEonline.id– UPTD Puskesmas Setu I Kabupaten Bekasi menghadirkan inovasi BENING (Bersama Edukasi dan Stikerisasi Kualitas Air Perpipaan Terjamin) sebagai upaya memperkuat pembinaan penyelenggara air minum berbasis masyarakat agar kualitas air yang didistribusikan kepada masyarakat tetap aman, sehat, dan memenuhi standar.
Inovasi tersebut dikembangkan berdasarkan hasil pemetaan pada 2023 yang menunjukkan masih rendahnya kesadaran penyelenggara air minum dalam melakukan pemeriksaan kualitas air secara mandiri. Dari 35 penyelenggara air minum berbasis masyarakat di lima desa wilayah kerja UPTD Puskesmas Setu I, hanya 11,4 persen yang telah melakukan pemeriksaan kualitas air secara mandiri.
Sanitarian Ahli Muda UPTD Puskesmas Setu I, Sri Werdiningsih Retno Asmara, mengatakan kondisi tersebut menjadi dasar lahirnya inovasi BENING agar hasil pemeriksaan laboratorium tidak hanya berhenti sebagai dokumen administrasi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai media edukasi dan tindak lanjut perbaikan.
Baca Juga:PENTING DIKETAHUI, Mulai 1 Agustus 2026 RSUD Karawang Utamakan Pasien yang Daftar Rawat Jalan via Mobile JKNJadi Bang Jago dan Keroyok Orang, Anggota Dewan Bekasi Resmi Ditahan
“Melalui BENING, hasil pemeriksaan laboratorium kami jadikan sebagai instrumen edukasi, dasar pengambilan keputusan, sekaligus mendorong perubahan perilaku penyelenggara dalam menjaga kualitas air yang didistribusikan kepada masyarakat,” ujar Sri.
Dia menjelaskan, BENING mengintegrasikan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL), pemeriksaan kualitas air, penyampaian hasil melalui stiker, rekomendasi teknis, pendampingan, monitoring, komunikasi melalui WhatsApp Group, hingga pertemuan tatap muka dalam satu model pembinaan yang berkelanjutan.
Penerapan inovasi tersebut membuat setiap hasil pemeriksaan laboratorium dapat segera ditindaklanjuti sesuai kondisi di lapangan. Salah satunya ketika ditemukan parameter mangan yang belum memenuhi syarat, penyelenggara diberikan rekomendasi teknis berupa flushing jaringan perpipaan, pengurasan toren, dan pemeliharaan sarana.
“Pendampingan dilakukan hingga penyelenggara memahami langkah-langkah perbaikan. Hasilnya, pada pemeriksaan berikutnya kualitas air menunjukkan peningkatan setelah rekomendasi teknis diterapkan,” katanya.
Selain meningkatkan kualitas air, inovasi BENING juga memperkuat kolaborasi antara Puskesmas, Laboratorium Kesehatan Daerah, pemerintah desa, kader kesehatan, dan penyelenggara air minum dalam pengawasan kualitas air secara berkelanjutan.
Peningkatan kualitas layanan tersebut turut berdampak pada meningkatnya kepuasan pelanggan. Dana yang dikelola dari pembayaran pelanggan kemudian dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan sosial, seperti bantuan operasional mushala, pembangunan jalan lingkungan, pemeliharaan lapangan olahraga, santunan anak yatim, hingga kegiatan kemasyarakatan lainnya.
