Efek 'Cashless Effect': Mengapa Bayar Pakai QRIS Terasa Kurang Menyakitkan Dibanding Uang Tunai?

cashless effect
Transaksi digital menghilangkan kontak fisik dengan lembaran uang, membuat sinyal "rasa sakit" di otak tidak terpicu. Itulah mengapa belanja dengan scan QRIS terasa jauh lebih ringan ketimbang menyerahkan uang tunai.
0 Komentar

KBEonline.id – Pernahkah Anda memperhatikan betapa mudahnya kita mengeluarkan uang saat berbelanja menggunakan fitur scan QRIS, menggesek kartu debit, atau menggunakan saldo e-wallet di ponsel? Mengeluarkan puluhan hingga ratusan ribu rupiah untuk segelas kopi kekinian atau barang impulsif terasa sangat ringan hanya dengan satu kali sentuhan jari. Namun, coba bandingkan jika Anda harus mengambil selembar uang kertas Rp100.000 dari dalam dompet fisik Anda dan menyerahkannya ke tangan kasir. Ada rasa berat, ketidakrelaan, atau “rasa sakit” kecil yang terasa nyata di dalam dada.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Di dalam neuroekonomi dan ekonomi perilaku, fenomena ini terjadi karena hilangnya rasa sakit psikologis yang dikenal dengan istilah Pain of Paying (Rasa Sakit Saat Membayar).

Fenomena Pain of Paying dan Otak Manusia

Istilah Pain of Paying pertama kali diteliti dan dipopulerkan oleh dua pakar ekonomi perilaku terkemuka, Ofer Zellermayer (1996) serta George Loewenstein dan Drazen Prelec (1998).

Baca Juga:Dead Internet Theory: Apakah Konten yang Kamu Baca Hari Ini Benar-Benar Dibuat oleh Manusia?Sunk Cost Fallacy: Mengapa Kita Sulit Melepaskan Hal yang Jelas-Jelas Merugikan?

Dalam riset mereka yang memanfaatkan pemindaian otak (fMRI), ditemukan fakta mengejutkan: ketika seseorang menyerahkan uang tunai fisik untuk membayar sesuatu, area otak yang bernama insula (bagian otak yang sama yang aktif saat kita merasakan rasa sakit fisik seperti tertusuk jarum atau terbentur) akan menyala.

Artinya, secara biologis, menyerahkan lembaran uang tunai fisik betul-betul diartikan oleh otak sebagai sebuah kehilangan aset secara langsung (physical loss). Ada jeda waktu (friction) di mana kita melihat jumlah lembaran uang kita berkurang di dalam dompet, dan proses fisik ini bertindak sebagai rem alami yang menahan kebiasaan belanja impulsif kita.

Dampak Cashless Effect: Otak yang Kehilangan “Rem”

Ketika teknologi finansial memperkenalkan transaksi cashless (nontunai)—mulai dari kartu kredit, e-wallet, hingga QRIS—rem alami di dalam otak tersebut perlahan-lahan dimatikan. Fenomena ini disebut sebagai Cashless Effect.

Teknologi transaksi digital memisahkan dua hal yang seharusnya terjadi bersamaan: kenikmatan membeli barang dan rasa sakit mengeluarkan uang.

Saat Anda menggunakan QRIS:

  1. Tidak Ada Pemisahan Fisik: Anda tidak melihat uang fisik berpindah tangan; Anda hanya melihat ponsel yang sama yang biasa Anda gunakan untuk bermain game atau media sosial.
  2. Abstraksi Angka: Angka saldo di layar ponsel hanya terasa seperti “skor game” atau angka abstrak, bukan representasi dari jam kerja dan keringat yang Anda keluarkan untuk mendapatkannya.
  3. Proses yang Sangat Cepat: Gesekan atau pindaian yang terjadi dalam hitungan detik (frictionless) membuat otak tidak sempat memproses rasa sakit akibat berkurangnya aset.
0 Komentar