Sunk Cost Fallacy: Mengapa Kita Sulit Melepaskan Hal yang Jelas-Jelas Merugikan?

sunk cost fallacy
Jangan biarkan biaya dan pengorbanan masa lalu yang sudah tidak bisa kembali (Sunk Cost) menjadi alasan Anda untuk terus menderita dan mengorbankan masa depan Anda.
0 Komentar

KBEonline.id – Pernahkah Anda bertahan menonton film di bioskop yang jalan ceritanya sangat membosankan, hanya karena merasa “eman-eman” (sayang) tiketnya sudah dibeli? Atau, pernahkah Anda terus memaksakan diri memainkan sebuah game online yang sudah tidak seru lagi hanya karena Anda sudah menghabiskan jutaan rupiah dan ratusan jam untuk top-up akun tersebut? Di level yang lebih dalam, fenomena ini sering menjadi alasan utama mengapa seseorang bertahan dalam hubungan asmara yang toxic atau pekerjaan yang merusak kesehatan mental: rasa berat untuk pergi karena merasa sudah “terlanjur investasi terlalu banyak.”

Di dalam ekonomi perilaku dan psikologi kognitif, jebakan pikiran ini dikenal dengan nama ilmiah Sunk Cost Fallacy (Kesesatan Biaya Terbenam).

Apa Itu Sunk Cost?

Secara sederhana, Sunk Cost (Biaya Terbenam) adalah segala bentuk sumber daya—baik berupa uang, waktu, tenaga, maupun emosi—yang sudah dikeluarkan di masa lalu dan tidak bisa ditarik kembali (irrecoverable).

Baca Juga:The Parasocial Relationship: Mengapa Kita BIsa Merasa Sangat Kenal dan Sedih Saat Streamer/Streamer Favorit MeEcho Chamber Effect: Bagaimana Algoritma Media Sosial Mengurung Kita dalam Penjara Pikiran yang Seragam

Secara logika dan matematis yang rasional, keputusan kita hari ini seharusnya didasarkan pada manfaat di masa depan, bukan pada biaya yang sudah hangus di masa lalu. Namun, otak manusia tidak bekerja secara rasional murni. Kita sering kali mengambil keputusan yang salah di masa kini hanya demi “menyelamatkan” atau membenarkan pengorbanan yang sudah sia-sia di masa lalu.

Mengapa Otak Kita Benci Mengakui Kekalahan?

Mengapa manusia sangat mudah terjebak dalam bias kognitif ini? Ada dua alasan psikologis utama di baliknya:

Prinsip Loss Aversion (Keengganan Merugi):Pelopor ekonomi perilaku, Daniel Kahneman dan Amos Tversky, menemukan bahwa rasa sakit akibat kehilangan sesuatu terasa dua kali lebih kuat daripada rasa senang saat mendapatkan sesuatu yang bernilai sama. Ketika kita menghentikan game, memutus hubungan, atau membatalkan proyek yang gagal, otak kita menginterpretasikannya sebagai “kekalahan murni”. Demi menghindari rasa sakit dari kekalahan tersebut, otak memilih untuk terus mencoba—meskipun itu berarti menambah kerugian yang lebih besar.

Ego dan Cognitive Dissonance (Disonansi Kognitif):Manusia memiliki kebutuhan emosional yang kuat untuk merasa konsisten dengan keputusan masa lalunya. Mengaku bahwa hubungan 5 tahun Anda tidak berhasil, atau bahwa jurusan/pekerjaan yang Anda pilih ternyata salah, membutuhkan keberanian untuk memukul ego sendiri. Kita lebih memilih terus menderita daripada harus mengakui kepada diri sendiri (dan orang lain) bahwa kita telah membuat keputusan yang salah.

0 Komentar