The Parasocial Relationship: Mengapa Kita BIsa Merasa Sangat Kenal dan Sedih Saat Streamer/Streamer Favorit Me

The Parasocial Relationship
otak manusia dirancang untuk merespons wajah dan suara sebagai bentuk kedekatan nyata. Parasocial Relationship menjelaskan mengapa kita bisa merasa sangat kenal dan peduli pada sosok yang bahkan tidak tahu nama kita.
0 Komentar

KBEonline.id – Pernahkah Anda merasa sangat gembira saat seorang streamer, influencer, atau V-Tuber favorit Anda mencapai milestone besar dalam kariernya? Atau sebaliknya, pernahkah Anda merasa benar-benar sedih, cemas, atau terhantam secara emosional ketika seorang kreator konten yang Anda ikuti mengumumkan rehat (hiatus), tertimpa masalah, atau pensiun dari dunia maya? Jika dipikirkan secara logis, Anda belum pernah bertemu langsung dengan mereka di dunia nyata. Mereka bahkan tidak mengetahui nama atau keberadaan Anda. Namun, mengapa rasa terikat dan empati yang Anda rasakan terasa begitu nyata?

Di dalam sosiologi dan psikologi media, fenomena hubungan emosional satu arah ini dikenal dengan istilah Parasocial Relationship (Interaksi / Hubungan Parasosial).

Ketika Otak Manusia Gagal Membedakan Layar dan Realitas

Istilah Parasocial Interaction pertama kali dicetuskan oleh sosiolog Donald Horton dan Richard Wohl pada tahun 1956. Saat itu, mereka mengamati bagaimana penonton televisi mulai merasa memiliki ikatan pribadi yang dekat dengan para pembawa berita dan bintang acara bincang-bincang (talkshow).

Baca Juga:Echo Chamber Effect: Bagaimana Algoritma Media Sosial Mengurung Kita dalam Penjara Pikiran yang SeragamSindrom 'Notification Fatigue': Mengapa Kita Mulai Takut dan Malas Membuka Chat yang Menumpuk

Mengapa otak kita bisa tertipu? Secara evolusioner, sistem saraf manusia dirancang untuk merespons wajah, suara, dan ekspresi emosi manusia lain sebagai bentuk interaksi sosial langsung. Otak purba kita tidak dirancang untuk memahami teknologi layar digital. Ketika Anda menatap wajah seorang kreator secara konsisten melalui layar ponsel—terutama dalam format livestreaming berjam-jam yang terkesan intim—otak Anda memprosesnya seolah-olah orang tersebut sedang duduk di ruang tamu Anda dan berbicara langsung dengan Anda.

Era Digital: Ketika Hubungan Parasosial Semakin “Intim”

Di era media sosial dan livestreaming saat ini, hubungan parasosial berkembang menjadi jauh lebih intens dibanding era televisi zaman dulu. Ada beberapa faktor yang membuat ilusi kedekatan ini semakin kuat:

  1. Format Livestreaming dan Kamera Close-up: Tatapan mata yang tertuju ke kamera, penggunaan Mikrofon berkualitas tinggi (seperti ASMR atau nada suara santai), serta obrolan kasual tanpa skrip membuat penonton merasa menjadi bagian dari lingkaran pertemanan dalam ruangan tersebut.
  2. Interaksi Pseudo-Sosial: Ketika streamer membaca salah satu pesan Anda di kolom live chat, menyebut nama akun Anda, atau membalas komentar Anda di media sosial, otak merespons momen singkat tersebut sebagai bentuk konfirmasi validasi sosial.
  3. Sisi Vulnerability (Kerentanan): Banyak kreator konten modern yang tidak ragu membagikan cerita personal, perjuangan hidup, hingga masalah mental mereka. Kejujuran ini menciptakan empati yang sangat kuat bagi para pendengarnya.
0 Komentar