Menurut Sumeru, kondisi tersebut berbeda dengan refrigeran R134a yang masih banyak digunakan di Indonesia. Refrigeran tersebut memiliki nilai GWP sekitar 1.430 sehingga dampaknya terhadap pemanasan global jauh lebih besar apabila terjadi kebocoran.
“AC mobil itu relatif mudah bocor karena ada getaran dari mesin. Ketika refrigeran bocor, sama saja kita membuang zat yang dapat membuat bumi semakin panas,” ungkapnya.
Ia menambahkan, refrigeran R1234yf sebenarnya sudah tersedia di Indonesia, namun penggunaannya masih terbatas, salah satunya pada kendaraan seperti Ferrari dan Lamborghini. Salah satu kendalanya adalah harga yang masih jauh lebih mahal dibandingkan R134a karena penggunaannya belum banyak.
Baca Juga:25+ Twibbon Gratis Hari Pramuka 2026 Lengkap Ucapan, Yuk Meriahkan Peringatan ke-65 Tahun!TRAGIS! Ibu di Kuningan Tewas Ditangan Anaknya Sendiri, Diduga Kesal Gegara Disuruh Sholat Shubuh
“Kalau diproduksi secara massal, kemungkinan harganya bisa sama dengan freon biasa. Karena itu harus ada upaya dari pemerintah untuk menganjurkan penggunaan refrigeran yang lebih ramah lingkungan,” ucapnya.
Sumeru mengatakan kegiatan tersebut juga merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat dari Polban. Dalam kerja sama tersebut, Polban turut memberikan bantuan berupa trainer unit atau perangkat praktik kepada BLK Karawang untuk mendukung proses pembelajaran peserta.
Untuk pengembangan kerja sama ke depan, pelatihan tidak hanya akan menyasar kendaraan berbahan bakar minyak. Polban dan BLK Karawang berencana mengembangkan pelatihan servis AC kendaraan listrik pada tahun berikutnya.
“Kalau tahun ini kita fokus pada AC mobil berbahan bakar minyak, insyaallah tahun depan kita akan memberikan pelatihan AC mobil listrik,” tutup Sumeru. (Siska)
