KBEonline.id – Pernahkah Anda mendapati diri Anda terjebak dalam pusaran membaca berita buruk di media sosial selama berjam-jam? Mulai dari isu resesi ekonomi, krisis iklim, ketegangan politik, hingga perang—layar ponsel seolah menyedot Anda ke dalam jurang kekhawatiran tanpa akhir. Namun, hal aneh terjadi beberapa saat setelahnya. Untuk meredakan rasa cemas dan sesak di dada akibat berita-berita tersebut, jemari Anda secara otomatis berpindah ke aplikasi e-commerce atau belanja online, menambahkan barang-barang yang sebenarnya tidak Anda butuhkan ke dalam keranjang, lalu menekan tombol checkout.
Jika skenario ini terasa familiar, Anda sedang mengalami kombinasi dua fenomena psikologis masyarakat modern: Doomscrolling dan Doomspending.
Dari Doomscrolling Menuju Doomspending
Untuk memahami keterkaitan kedua fenomena ini, kita harus melihat bagaimana otak merespons ancaman di era digital.
Baca Juga:Text-Anxiety & Telephonophobia: Mengapa Generasi Sekarang Sangat Benci dan Takut Menerima Panggilan Telepon?Imposter Syndrome di Era Digital: Mengapa Orang-Orang Hebat Sering Merasa Dirinya Hanya Penipu yang Beruntung?
Doomscrolling adalah perilaku obsesif di mana seseorang terus-menerus mengonsumsi berita atau konten negatif di internet, meskipun hal itu memicu rasa cemas, sedih, dan kewalahan. Otak purba kita melakukan ini karena dorongan dorongan survival instinct (mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk mengantisipasi bahaya).
Doomspending adalah perilaku belanja impulsif yang dipicu oleh rasa cemas ekstrem terhadap masa depan. Ketika seseorang merasa bahwa dunia luar berada di luar kendalinya atau masa depan tampak suram, belanja menjadi mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) instan.
Secara logis, jika seseorang cemas akan krisis ekonomi, langkah yang masuk akal adalah menghemat uang dan menabung. Namun, psikologi manusia tidak bekerja secara linear. Mengapa kecemasan justru mendorong kita menghamburkan uang?
Psikologi di Balik Doomspending
Ada tiga pemicu neurologis dan psikologis utama di balik perilaku ini:
1. Pencarian Dopamin Instan (Dopamine Spike)Membaca berita buruk secara terus-menerus menekan level dopamin (hormon kesenangan) dan meningkatkan kortisol (hormon stres). Otak yang dalam kondisi stres berat akan secara otomatis berburu cara paling cepat untuk memulihkan keseimbangan kimianya. Checkout belanjaan di aplikasi memberikan lonjakan dopamin instan yang memberi rasa lega sementara (short-term relief) dari rasa cemas.
2. Rekonstruksi Rasa Kendali (Ilusion of Control)Bencana alam, krisis ekonomi, dan dinamika global adalah hal-hal raksasa yang berada jauh di luar kendali pribadi kita. Perasaan tidak berdaya (helplessness) ini sangat menyakitkan bagi psikologis manusia. Ketika Anda memilih warna sepatu, menentukan barang yang ingin dibeli, dan menekan tombol bayar, otak Anda merasakan kembali ilusi kendali penuh atas sebuah keputusan.
