Dalam kesempatan itu, Asep juga mengapresiasi masyarakat Kampung Ciranggon yang dinilainya mampu menjaga kebersamaan sekaligus mempertahankan tradisi lokal.
Bahkan, dengan nada bercanda, Asep mengaku sudah tidak asing dengan sajian makanan yang dihidangkan masyarakat setempat.
“Kalau desa ini masakannya enak, Bu. Karena saya sering makan,” ucapnya disambut suasana hangat warga.
Baca Juga:Mengenal Lebih Dekat AKP Hasanudin Bahar, Enam Tahun Berturut- turut Jadi Komandan Upacara HUT RI di KarawangBegini Pemandangan Sehari-hari Wilayah Lemahabang yang Belum Merdeka dari Macet dan Semrawut Lalinnya
Menurut Asep, tradisi babaritan harus terus dirawat karena menjadi salah satu bentuk kekayaan budaya masyarakat Kabupaten Bekasi.
Di tengah perkembangan wilayah yang semakin pesat, keberadaan tradisi lokal dinilai penting sebagai pengikat sosial sekaligus identitas masyarakat.
Ia berharap generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut terlibat dalam menjaga keberlangsungan tradisi tersebut agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sementara itu, Tokoh Masyarakat Kampung Ciranggon, Gunawan, mengatakan hajat bumi merupakan tradisi yang telah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat.
Tradisi tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi memiliki makna sebagai bentuk rasa syukur atas berbagai nikmat yang diberikan Tuhan.
“Ini memang tradisi turun-temurun yang biasa dilakukan masyarakat. Tujuannya untuk mencari keberkahan dan sebagai bentuk rasa syukur,” ujar Gunawan.
Menurut Gunawan, pemilihan lokasi di perempatan Kampung Ciranggon bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut menjadi titik strategis sekaligus pusat berkumpulnya warga dalam berbagai kegiatan masyarakat.
Baca Juga:Amankan Pilkades Digital 2026, Polresta Karawang dan TNI Siapkan Ribuan Personil Gabungan Kawal Semua Tahapan Bupati Aep Pimpin Rapat Persiapan Pilkades 67 Desa: Harus Benar-benar Siap
“Lokasinya memang di perempatan Kampung Ciranggon karena ini menjadi titik sentral berkumpulnya warga,” katanya.
Gunawan menilai keberadaan hajat bumi penting untuk terus dipertahankan. Terlebih, perkembangan wilayah yang semakin pesat membuat masyarakat dituntut tetap menjaga akar budaya dan tradisi yang diwariskan para pendahulu.
Menurutnya, tradisi lokal tidak harus dipertentangkan dengan perkembangan zaman. Justru, kearifan lokal dapat menjadi identitas yang memperkuat hubungan sosial dan kebersamaan masyarakat.
“Jangan sampai karena perkembangan zaman, tradisi seperti ini hilang. Ini bagian dari kearifan lokal yang harus kita jaga bersama,” tuturnya.
Ia menyebut hajat bumi juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antarwarga. Masyarakat dapat berkumpul, berinteraksi dan bersama-sama menjaga suasana kampung tetap guyub.
