KBEonline.id – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja menilai tradisi babaritan atau hajat bumi yang masih dipertahankan masyarakat Kampung Ciranggon, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi merupakan bagian penting dari identitas dan kearifan lokal yang tidak boleh hilang ditelan zaman.
Hal itu disampaikan Asep saat menghadiri kegiatan babaritan yang digelar masyarakat Kampung Ciranggon dalam momentum Hari Jadi Kabupaten Bekasi ke-76 dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Menurut Asep, tradisi yang diwariskan secara turun-temurun memiliki nilai penting, terutama dalam menjaga hubungan kekeluargaan sekaligus mengingatkan masyarakat terhadap akar budaya yang dimiliki.
Baca Juga:Mengenal Lebih Dekat AKP Hasanudin Bahar, Enam Tahun Berturut- turut Jadi Komandan Upacara HUT RI di KarawangBegini Pemandangan Sehari-hari Wilayah Lemahabang yang Belum Merdeka dari Macet dan Semrawut Lalinnya
“Ini merupakan satu tradisi yang tidak bisa dilupakan. Jadi kayak saya, saya jadi dokter di Jakarta, kalau pulang saya ingat adat istiadat keluarga saya,” ujar Asep di Cikarang Timur.
Ia mengatakan, meski seseorang berada jauh dari kampung halaman karena pekerjaan maupun aktivitas lainnya, tradisi dan kebiasaan keluarga tetap menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan.
“Kalau saya di Jakarta, itu saya pasti ingat keluarga juga punya tradisi. Tradisinya ngumpul. Nah, itu tidak bisa hilang,” katanya.
Asep mengapresiasi masyarakat Kampung Ciranggon yang masih mempertahankan tradisi babaritan.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga sarana pembelajaran bagi generasi muda agar memahami dan menghargai budaya yang diwariskan para pendahulunya.
“Ini merupakan satu cerminan kepada adik-adik yang nanti dewasa. Ini kan memberi pembelajaran. Nanti selepasnya Mbah Gun, ini tetap harus ada. Jangan pernah ditinggalkan namanya babaritan,” tegasnya.
Asep juga menyoroti makna kebersamaan yang tercipta dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, makan bersama dalam tradisi babaritan bukan sekadar untuk menikmati hidangan, melainkan menjadi ruang mempererat silaturahmi antarwarga.
“Makan bersama bukan hanya untuk tujuan makan, tapi di sini adalah silaturahim,” ungkapnya.
Baca Juga:Amankan Pilkades Digital 2026, Polresta Karawang dan TNI Siapkan Ribuan Personil Gabungan Kawal Semua Tahapan Bupati Aep Pimpin Rapat Persiapan Pilkades 67 Desa: Harus Benar-benar Siap
Ia menilai tradisi semacam ini mampu menciptakan suasana egaliter di tengah masyarakat. Seluruh warga dapat berkumpul tanpa membedakan latar belakang, status sosial maupun pekerjaan.
“Kita berdiri sama tinggi, duduk sama rendah di tempat ini,” kata Asep.
