Namun, menurut Ojan, banner tersebut kemudian dicopot oleh pihak rektorat. Sementara itu, mahasiswa mengaku belum mendapatkan respons yang dianggap memberikan kepastian terhadap tuntutan mereka.
Ia menegaskan pemasangan banner tersebut merupakan langkah awal mahasiswa untuk menyuarakan persoalan fasilitas perkuliahan yang mereka hadapi.
BEM Fasilkom, kata dia, tidak ingin persoalan tersebut hanya berakhir pada janji yang disampaikan secara lisan tanpa kejelasan mengenai realisasinya.
Baca Juga:5 Tempat Bolen Pastry di Karawang yang Wajib Dicoba dan Harganya Mulai Rp5 Ribuan7 Film yang Sedang Tayang di Bioskop Karawang : Ada Spider-Man hingga Film Horor
“Kami bosan selalu dijanjikan lewat lisan saja. Yang kami pertanyakan sebenarnya sederhana, yaitu hak kami sebagai mahasiswa,” ujarnya.
Ojan menilai mahasiswa telah menjalankan kewajibannya sebagai peserta didik, termasuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) setiap semester. Karena itu, mahasiswa juga berharap memperoleh fasilitas penunjang pendidikan yang layak.
“Kami rutin membayar UKT setiap semester sebagai kewajiban kami. Tapi kami merasa tidak mendapatkan hak yang seharusnya, yaitu sistem pendukung proses belajar mengajar yang layak,” katanya.
BEM Fasilkom menyatakan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga terdapat kejelasan mengenai rencana dan waktu pembangunan maupun penyediaan gedung yang layak bagi mahasiswa Fasilkom Unsika.
