KARAWANG, KBEonline.id — Kesehatan mental pada kelompok remaja kini menjadi perhatian serius para praktisi medis. Psikiater Primaya Hospital Karawang, dr. Anggi Aviandri Putra, Sp.KJ, mengungkapkan bahwa tingginya pelaporan kasus gangguan mental di kalangan remaja saat ini dipicu oleh dua faktor utama, yakni meningkatnya kesadaran masyarakat serta paparan arus informasi media sosial yang begitu cepat. dr. Anggi menjelaskan, konsumsi konten berdurasi pendek secara terus-menerus—seperti di platform TikTok—dapat memacu hormon dopamin secara berlebihan dalam jangka panjang. Kondisi ini berisiko membentuk perilaku remaja yang mudah bosan, rentan cemas, dan kesulitan dalam mengelola tekanan hidup atau stresor.
“Ketika anak muda terbiasa dipacu dopaminnya dengan konten cepat, mereka jadi gampang bosan. Begitu ada stresor dan bingung cara menangenanginya, di situlah timbul risiko gangguan mental,” ujar dr. Anggi, Selasa (8/9).
Meski demikian, ia menekankan bahwa depresi pada remaja tidak pernah berdiri sendiri atau disebabkan oleh faktor tunggal. Dalam tinjauan medis kedokteran jiwa, kondisi tersebut merupakan akumulasi kompleks dari empat aspek utama, yaitu biologi, psikologi, lingkungan sosial, dan spiritual.
Baca Juga:Ungguli Peserta dari Ratusan Kampus, Mahasiswa IRAKS Ukir Prestasi Nasional di Ajang Serifest 2026Dukung UMKM, DPMD Karawang Belanja di Bazar Motekar Preneur
Menurut dr. Anggi, faktor biologi seperti riwayat genetik keluarga dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap depresi. Sementara itu, faktor lingkungan seperti perundungan (bullying) serta kemampuan psikologis individu dalam meregulasi emosi turut menentukan seberapa dalam dampak stresor tersebut mempengaruhi mental seorang remaja.
Guna mencegah dan mengelola kecemasan pada remaja, dr. Anggi membagikan tiga langkah praktis. Langkah pertama adalah memiliki ruang aman untuk bercerita atau melampiaskan emosi melalui tulisan (journaling) untuk mengurangi beban pikiran yang sifatnya pribadi. Langkah kedua yang tidak kalah penting adalah mengeksplorasi dan memiliki hobi. Aktivitas yang disukai seperti memasak, berkebun, atau menggambar berfungsi secara efektif sebagai sarana regulasi emosi ketika emosi negatif atau rasa cemas datang menyerang.
Selanjutnya, langkah ketiga adalah menjaga konsistensi berolahraga secara rutin. Aktivitas fisik terbukti secara medis mampu merangsang pelepasan hormon kebahagiaan yang dapat menenangkan pikiran serta menjaga kestabilan suasana hati (mood).
