KBEONLINE.ID, BEKASI – Kontestasi pesta demokrasi tingkat desa melalui Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak Kabupaten Bekasi 2026 tak hanya menjadi pertarungan para calon kepala desa. Di baliknya, kepentingan politik sejumlah pihak turut mewarnai, termasuk anggota DPRD Kabupaten Bekasi yang masing-masing ikut memiliki jagoan.
Dari 154 desa yang mengikuti Pilkades serentak, sejumlah anggota legislatif disebut-sebut juga memiliki jagoan calon kepala desa yang mereka dukung. Dukungan tersebut tak semata berkaitan dengan hubungan kekeluargaan, tetapi juga menyentuh kepentingan politik di tingkat akar rumput menjelang kontestasi Pemilu 2029.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Bekasi, Jiovanno Nahampun, tak menampik fenomena tersebut. Menurut dia, Pilkades dapat menjadi ajang adu gengsi sekaligus adu kekuatan politik antaranggota dewan.
Baca Juga:TPS Ilegal Sukadami Terbakar, DLH dan Damkar Berhasil Padamkan ApiPolresta Karawang PTDH Dua Personel Melanggar Kode Etik
“Menurut saya pesta demokrasi Pilkades ini bukan hanya adu gengsi antar calon kepala desa, tetapi bisa saja adu gengsi kami (anggota DPRD),” ujar Jiovanno Nahampun kepada Cikarang Ekspres, Rabu (9/9).
Ia menyiratkan, keterlibatan dirinya maupun rekan-rekan sejawat di DPRD dalam Pilkades tak semata soal memberikan dukungan kepada calon kepala desa. Kontestasi tersebut juga menjadi arena adu gengsi antarpolitisi sekaligus momentum untuk membaca pergeseran strategi dalam perebutan suara di tingkat akar rumput.
Bahkan, Jio mengaku turut memetakan apakah terjadi perubahan taktik maupun pola kerja tim sukses di lapangan dibandingkan saat Pemilihan Legislatif (Pileg) sebelumnya. Sebab, sebagian jaringan pemenangan yang terbentuk saat Pileg kembali bersentuhan langsung dengan kontestasi Pilkades.
Kendati demikian, Pilkades dinilai memiliki posisi strategis dalam memetakan kekuatan politik menjelang Pemilu 2029. Kontestasi perebutan suara yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat membuat basis massa di tingkat desa menjadi modal penting bagi para politisi untuk membangun sekaligus mempertahankan jaringan politik menghadapi pemilu berikutnya.
“Misalkan di dapil II jagoan gua menang dong, jagoan lo gimana, kan gitu. Karena bicara Pilkades ini di tatanan tim sukses kita waktu Pileg, pasti ada perbedaan-perbedaan, jadi adu gengsi,” ungkapnya.
“Dan menurut pandangan gua secara pribadi, disini adu kuat strategi, tidak boleh ketinggalan karena kalau jagoan kita menang itu akan menjadi penentu suara kita nanti di 2029 dan 2034, karena jabatan kepala desa delapan tahun, bos,” sambungnya.
