KARAWANG, KBEONLINE.ID — Ancaman penyakit metabolik atau sindrom metabolik kini tidak lagi didominasi oleh kelompok usia lanjut. Gaya hidup yang makin serba instan dan minim aktivitas fisik membuat kelompok remaja hingga dewasa muda makin rentan terpapar gangguan kesehatan yang berisiko memicu komplikasi serius ini.
Spesialis Penyakit Dalam dari Primaya Hospital, dr. Indra Alexandra, Sp.PD, MMRS, menjelaskan bahwa sindrom metabolik bukanlah satu penyakit tunggal, melainkan kumpulan gejala yang umumnya berakar dari kondisi obesitas. Menurutnya, indikator utama yang perlu diwaspadai pasien sejak awal adalah Indeks Massa Tubuh (BMI) serta ukuran lingkar perut.
“Rumah besarnya itu biasanya dari pasien-pasien yang punya obesitas. Kalau untuk orang Asia, BMI di atas 25 itu perlu aware. Selain BMI, kita juga harus melihat lingkar perut, yaitu kurang dari 90 cm untuk laki-laki dan kurang dari 80 cm untuk perempuan. Lingkar perut yang berlebih menandakan penumpukan lemak viseral yang berbahaya,” ujar dr. Indra, Rabu (23/9).
Baca Juga:Tabel KUR BSI 2026 Rp10-Rp75 Juta Lengkap Syarat dan Cara Pengajuan, Angsuran 1-5 Tahun Bayar Mulai Rp900 RibuKembali Merosot! Harga Emas Antam Melemah Rp15.000 ke Level Rp 2.590.000 per gram
Faktor genetik turut memegang peranan dalam meningkatkan risiko seseorang mengalami obesitas dan penyakit metabolik. Seseorang yang memiliki riwayat keluarga obesitas dapat memiliki faktor risiko terkena 3 hingga 4 kali lebih besar. Kendati demikian, risiko dari faktor bawaan tersebut tetap dapat ditekan melalui perbaikan pola hidup secara konsisten.
Mengenai intervensi medis, dr. Indra menuturkan bahwa evaluasi gaya hidup idealnya dilakukan selama 3 hingga 6 bulan sebelum memutuskan penggunaan obat-obatan. Namun, jika ditemukan kondisi klinis seperti tekanan darah atau gula darah yang melonjak sangat tinggi, tindakan medis berupa pemberian obat dapat segera diberikan.
“Dengan kita menurunkan berat badan 5 sampai 10 persen, itu bisa mengurangi faktor risiko ke arah diabetes sampai 50 persen. Jadi lumayan signifikan untuk mengurangi risikonya,” tutur dr. Indra.
Selain perut buncit, tanda awal gangguan metabolik sering muncul melalui gejala klinis diabetes, seperti mudah haus, mudah lapar, dan sering buang air kecil di malam hari. Gangguan tidur seperti mengorok mendadak atau obstructive sleep apnea (OSA) serta sering sakit kepala juga kerap menjadi sinyal awal yang jarang disadari pasien.
