Nasi Darurat Karawang: Gerakan Mahasiswa Menjaga Asa di Tengah Keterbatasan

Nasi Darurat Karawang
Nasi Darurat Karawang
0 Komentar

Uniknya, NDK tidak menggunakan metode pembagian makanan secara langsung. Sebagai gantinya, Addon mengadopsi sistem pembayaran digital berbasis QRIS yang memungkinkan bantuan disalurkan secara cepat dan fleksibel.

Melalui sistem ini, penerima cukup mengirimkan kode QRIS dari warung makan terdekat, lalu pembayaran dilakukan secara real-time oleh admin. Cara ini dinilai lebih efisien sekaligus menjaga privasi penerima bantuan.

“Saya ingin mereka merasa seperti sedang ditraktir, bukan menerima bantuan. Martabat mereka tetap terjaga,” ungkapnya.

Baca Juga:Persib VS Arema! Bojan Bingung Pilih Strater, Marcos Santos Siap Tekan Maung Bandung di Kandang Rekomendasi Touring Terbaik di Jawa Barat! Mulai dari Panas Karawang Tembus ke Tempat Paling Dingin!

Dari sisi pendanaan, NDK saat ini masih mengandalkan dana pribadi Addon serta donasi sukarela. Namun, demi menjaga transparansi, ia memilih untuk sementara waktu membatasi penerimaan donasi hingga tersedia rekening khusus.

“Ini soal kepercayaan. Saya tidak ingin mencampur dana pribadi dengan dana sosial sebelum sistemnya benar-benar siap,” tegasnya.

Meski masih dikelola secara mandiri, respons masyarakat terhadap NDK terbilang positif. Banyak pihak memberikan dukungan moral, bahkan menyatakan minat untuk ikut berdonasi dan terlibat dalam gerakan ini.

Ke depan, Addon berencana memperkuat legalitas program, membentuk tim relawan, serta menjalin kerja sama dengan warung makan sebagai mitra tetap. Ia berharap NDK dapat menjadi jaring pengaman sosial yang berkelanjutan bagi mahasiswa di Karawang.

“NDK bukan sekadar program sesaat. Selama masih ada mahasiswa yang membutuhkan, saya ingin gerakan ini tetap ada dan terus berkembang,” pungkasnya.(aufa)

0 Komentar