EKSOTIS, Paviliun Cahya in-Lite: Eksplorasi Sintesa Cahaya, Ruang, dan Arsitektur Nusantara di ARCH:ID 2026

Paviliun cahya
Ruang Temaram, salah satu dari tiga ruang dalam \"Paviliun Cahya\", dirancang oleh arsitek dan seniman Jessica Soekidi serta berkolaborasi dengan lighting designer Inka Dharmawan yang merupakan direktur Dharmawan Group. Terinspirasi dari arsitektur Nusantara, ruang ini menghadirkan suasana fajar saat cahaya belum sepenuhnya hadir. Pencahayaan minimal yang disaring melalui kain tirai menciptakan nuansa temaram yang hangat dan kontemplatif, merujuk pada momen subuh yang mengajak pengunjung berdiri di ambang batas gelap dan terang.
0 Komentar

Arsitek dan seniman Jessica Soekidi, sekaligus pendesain Paviliun Cahya in-Lite, menjelaskan bahwa instalasi ini menggunakan pendekatan eklektik kontemporer untuk menghadirkan pengalaman imersif.

Jessica menjelaskan, Inspirasi utama Paviliun Cahya berakar dari sintesa arsitektur Nusantara, di mana leluhur kita telah memahami hubungan antara cahaya, ruang, dan alam.

Arsitektur Vernakular Indonesia, dari rumah panggung hingga candi, selalu memperhitungkan bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan ruang, sebuah kearifan lokal yang wajib dijaga seperti menjaga alam dan bumi.

Baca Juga:Ngedance 15 Menit, Daya Tahan Tubuh Ningkat Paru-paru Sehat dan Bebas BatukJejak Perjuangan Yonif 305 di Lembah Pasir Ipis KIIC, Bangun Tugu Tengkorak di Eks Medan Latih 

Kolaborasi dengan in-Lite juga menarik karena kami memiliki visi yang sama, bahwa pencahayaan berkualitas tidak seharusnya bersifat eksklusif, tetapi dapat diakses oleh semua kalangan.

Lebih dari sekadar instalasi visual, pengunjung diajak mengalami cahaya melalui tiga tahap perjalanan, dari kegelapan total, temaram fajar, hingga ruang terang penuh.

Setiap tahap dirancang untuk mengaktifkan indera yang berbeda dan membangun pemahaman bertahap tentang bagaimana cahaya membentuk pengalaman ruang.

Momentum Perayaan Peran Wanita dalam Dunia Arsitektur

Pendekatan sintesa dalam arsitektur tidak hanya berbicara tentang elemen ruang, tetapi juga tentang siapa yang terlibat di dalamnya.

Dalam ekosistem yang kolaboratif, keberagaman perspektif menjadi kunci untuk menghadirkan ruang yang lebih utuh dan manusiawi, termasuk peran perempuan yang semakin berkembang di dunia arsitektur.

Dari sekitar 27.000 anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), sekitar 5.500 di antaranya adalah perempuan atau sekitar 20 persen, mencerminkan ruang yang masih terus berkembang menuju keseimbangan yang lebih baik.

Principal Architect Hadiprana Design sekaligus Kurator ARCH:ID 2026 Ar. Afwina Kamal menilai kondisi ini sebagai peluang untuk memperkuat inklusivitas.

Baca Juga:PENTING, Magang Nasional Perkuat Kompetensi Calon Naker dan Memperluas Akses Peluang KerjaBantah Ada Penundaan, Bupati Aep Pastikan Pilkades 67 Desa di Karawang Digelar November 2026

Ia mengatakan, dalam penyelenggaraan ARCH:ID 2026, kami mendorong kolaborasi yang lebih inklusif di antara para pelaku industri, termasuk peran perempuan yang semakin berkembang.

Ia melihat tema sintesa juga merefleksikan cara perempuan bekerja yang kolaboratif, integratif, dan berorientasi pada keharmonisan. Di komunitas arsitektur, perempuan kini semakin vokal dan visible. Ini merupakan kemajuan yang nyata dan terus berlangsung.

Fransiska menambahkan, partisipasi in-Lite di ARCH:ID 2025 menjadi wujud nyata konsep ‘Beyond Illumination’, di mana kami ingin menunjukkan bahwa cahaya tidak sekadar berfungsi sebagai penerangan, sejalan dengan komitmen #TerangIndonesia.

0 Komentar