KBEONLINE.ID – Gen Z tumbuh di zaman yang penuh ketidakpastian. Sejak kecil mereka sudah akrab dengan berbagai isu besar Waktu masih balita mereka ada krisis moneter tahun 1998, mulai dari krisis ekonomi global hingga ketakutan massal seperti isu kiamat 2012 yang sempat menghantui satu generasi. Belum sempat benar-benar memahami dunia, mereka sudah dihadapkan pada kenyataan bahwa masa depan tidak selalu aman dan bisa berubah sewaktu-waktu.
Memasuki usia remaja, situasi justru makin berat. Pandemi COVID-19 datang dan mengubah segalanya. Sekolah tidak lagi sama, pertemanan terasa jauh, dan banyak keluarga mengalami tekanan ekonomi. Di fase ini, Gen Z bukan hanya belajar tentang pelajaran sekolah, tapi belajar tentang bertahan hidup di tengah kondisi yang tidak stabil.
Ketika akhirnya masuk ke dunia kerja, tantangan yang dihadapi tidak kalah besar. Dulu ada satu jalur yang dianggap pasti menuju kesuksesan, yaitu sekolah, bekerja, menabung, lalu membeli rumah. Namun bagi Gen Z, pola itu mulai runtuh karena kondisi ekonomi yang sudah jauh berubah.
Baca Juga:Cara Mudah dan “Rahasia” Agar Anak Kita Ketagihan Belajar, Orang Tua Wajib Tahu!Menenun Asa di Balik Dinding Yayasan Nahdlatul Islahiyah : Kisah Keteguhan Titi Dewi Jayanti
Harga rumah meningkat jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan gaji. Di kota-kota besar, harga rumah bisa mencapai puluhan kali lipat dari penghasilan tahunan. Kondisi ini membuat banyak anak muda merasa bahwa memiliki rumah bukan lagi sekadar sulit, tapi terasa semakin jauh dari jangkauan.
Akibatnya, muncul realita baru yang cukup pahit. Untuk pertama kalinya, ada generasi yang mulai menerima kemungkinan bahwa mereka akan hidup lebih lama sebagai penyewa, bahkan mungkin seumur hidup. Ini bukan hanya soal finansial, tapi juga soal perubahan cara pandang terhadap kesuksesan.
Di Indonesia, memiliki rumah selama ini dianggap sebagai simbol keberhasilan hidup. Ketika hal itu semakin sulit dicapai, maka standar sukses pun ikut berubah. Gen Z mulai melihat bahwa keberhasilan tidak selalu harus diukur dari kepemilikan aset besar seperti rumah.
Di sisi lain, tekanan hidup sehari-hari juga tidak bisa diabaikan. Banyak dari mereka harus memikirkan kebutuhan keluarga, biaya hidup yang terus meningkat, hingga ketidakpastian pekerjaan. Pikiran mereka sering kali dipenuhi oleh kebutuhan jangka pendek yang harus segera diselesaikan.
