Tekan Angka Anemia, Santriwati Ponpes Sumber Barokah Karawang Dilatih Buat Susu Kedelai Kaya Zat Besi

Santriwati Ponpes Sumber Barokah Karawang
Tekan Angka Anemia, Santriwati Ponpes Sumber Barokah Karawang Dilatih Buat Susu Kedelai Kaya Zat Besi. -KBE
0 Komentar

KARAWANG, KBEONLINE.ID – Tim pengabdian masyarakat Poltekkes Bandung sukses menggelar program intervensi kesehatan berupa pendidikan kesehatan tentang anemia sekaligus pelatihan pembuatan susu kedelai di Pondok Pesantren Sumber Barokah, Kabupaten Karawang. Kegiatan yang berlangsung sejak tanggal 29 April hingga 12 Juni 2026 ini menyasar pengurus pondok dan para remaja putri atau santriwati setempat. Program ini diinisiasi karena melihat tingginya kerentanan remaja putri mengalami anemia akibat siklus menstruasi bulanan dan masa pertumbuhan yang cepat.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Ugi Sugiarsih, menjelaskan bahwa pola makan di lingkungan pesantren terkadang kurang bervariasi dalam pemenuhan zat besi. Oleh karena itu, susu kedelai dipilih sebagai alternatif asupan protein dan zat besi karena sifatnya yang ekonomis, mudah dibuat, serta kaya akan nutrisi untuk membantu meningkatkan kadar hemoglobin.

“Kami ingin memberikan solusi yang praktis dan berkelanjutan bagi pihak pesantren agar kebutuhan gizi santriwati tetap terpenuhi dengan baik,” ujar Ugi.

Baca Juga:Dimeriahkan 31 Tim SSB, Liga Jabar Istimewa U10 Regional Purwasukasi Sukses DigelarOptimalkan Kesehatan Reproduksi Calon Pengantin, Poltekkes Bandung Tingkatkan Kapasitas Tim Pendamping

Sebelum memasuki tahap inti, tim pelaksana terlebih dahulu melakukan koordinasi matang dengan pengurus pondok pesantren dan Puskesmas Wadas, serta menyiapkan alat, bahan, dan media edukasi. Memasuki tahap edukasi, para remaja putri diberikan pemahaman mendalam mengenai bahaya anemia, gejala fisik, dampak jangka panjang, serta pentingnya menerapkan pola gizi seimbang

Langkah awal ini krusial agar para santriwati memahami bahwa anemia adalah kondisi kekurangan sel darah merah atau kadar hemoglobin yang rendah, bukan sekadar kurang tekanan darah.

Dalam sesi edukasi tersebut, dipaparkan pula mengenai gejala umum anemia yang dikenal dengan istilah 5L, yaitu letih, lemah, lesu, lelah, dan lalai, yang sering kali membuat penderitanya pusing, berkunang-kunang, hingga sulit berkonsentrasi.

Selain itu, Ugi Sugiarsih juga mengingatkan para santriwati mengenai tanda fisik anemia yang dapat terlihat jelas pada tubuh. Tanda-tanda tersebut meliputi kelopak mata bagian bawah yang pucat, telapak tangan pucat, kuku yang memutih, hingga bibir yang pecah-pecah.

Lebih lanjut, Ugi menekankan bahwa pencegahan anemia pada remaja putri harus dilakukan sedini mungkin guna menghindari dampak buruk di masa depan.

0 Komentar