KARAWANG, KBEonline.id – Dinas Koperasi dan UKM (DPPK) Kabupaten Karawang meluncurkan program inovatif bertajuk Green Innovation guna mendorong transformasi pelaku usaha lokal menuju praktik yang lebih ramah lingkungan. Inisiatif ini difokuskan pada bidang Pemberdayaan dan Pengembangan Usaha Kecil Menengah (PPukm) sebagai respons terhadap tantangan ekologis saat ini. Program ini diharapkan dapat menjadi katalisator perubahan bagi ekosistem bisnis di Karawang.
Kepala Bidang PPukm DPPK Karawang, Leoni, menyatakan bahwa program ini merupakan wujud dukungan terhadap program prioritas Pemerintah Provinsi Jawa Barat tahun 2027. Fokus utamanya adalah menciptakan ekonomi sirkuler di kalangan pelaku usaha.
“Kegiatan Green Innovation ini bertujuan mendukung terciptanya ekonomi sirkuler di kalangan UMKM, selaras dengan program prioritas Provinsi Jawa Barat,” ujar Leoni, Rabu (29/4).
Baca Juga:Jadwal Film Bioskop Trans TV Malam Ini 29 April 2026 Lengkap Sinopsis, Ada Midway dan Hell or High WaterDaftar Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 29 April 2026 Lengkap Cara Klaim: Borong Gems, hingga Pemain OVR
Program bertajuk “UMKM Go Green Transformation” ini melibatkan 60 pelaku usaha sebagai proyek percontohan (pilot project). Peserta terdiri dari 30 UMKM sektor kriya dan 30 UMKM sektor kuliner. Melalui pembagian ini, diharapkan edukasi dan pelatihan yang diberikan dapat menyentuh permasalahan spesifik yang dihadapi oleh masing-masing jenis industri kreatif tersebut.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mengubah pola pikir (mindset) para pelaku UMKM agar beralih dari pola konvensional menuju UMKM hijau. Transformasi ini mencakup seluruh aspek bisnis, mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, hingga sistem pengemasan dan distribusi. Leoni menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai dalam setiap tahap operasional usaha.
Khusus untuk sektor kuliner, target yang ingin dicapai adalah terwujudnya Zero Waste Kitchen atau dapur bebas sampah. Para pelaku usaha diarahkan untuk mengolah limbah rumah tangga hasil produksi agar memiliki nilai guna kembali. Dengan demikian, limbah yang dihasilkan dari proses memasak tidak lagi menjadi beban lingkungan, melainkan sumber daya baru yang dikelola secara mandiri.
Pada sektor kriya, pelatihan difokuskan pada keterampilan mengolah limbah seperti minyak jelantah menjadi lilin beraroma dan pemanfaatan kain perca. Pelatihan ini berlangsung selama dua angkatan dengan durasi tiga hari per sesi, yang mencakup teori tentang prinsip 3R (Reuse, Reduce, Recycle) serta praktik langsung. Harapannya, barang-barang yang tadinya dianggap sampah dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomis.
