Dari jumlah tersebut, hanya sejumlah terbatas proyek yang meraih Founder’s Honors, yang dipilih langsung oleh para pendiri Bentley Systems sebagai representasi karya paling inovatif dan berdampak di tingkat global.
Karena itu, pengakuan ini semakin menegaskan posisi PGE sebagai perusahaan energi panas bumi yang terus mendorong transformasi digital di seluruh rantai bisnisnya, termasuk pada tahap eksplorasi yang memiliki tingkat kompleksitas dan risiko tinggi.
Dalam konteks ini, digitalisasi pemodelan subsurface menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan efisiensi, akurasi, serta keberhasilan pengembangan sumber daya panas bumi di masa depan.
Baca Juga:Seminar UMKM Halal Berbasis Teknologi di UPI PurwakartaKomisi II DPRD Desak Evaluasi Total Pengelolaan Pasar Cikampek I oleh PT Celebes
Proyek Subsurface Analysis and Modeling Lumut Balai Unit 3 merupakan bagian dari pengembangan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Lumut Balai yang ditargetkan beroperasi secara penuh dan menambah kapasitas sebesar 55 megawatt (MW) pada 2030.
Proyek ini diproyeksikan mampu memasok listrik bagi sekitar 60.000 rumah tangga, khususnya di daerah terpencil, serta mengurangi emisi karbon hingga 300.000 ton CO₂ per tahun.
15 Wilayah Kerja Pertamina Geothermal Energy Tbk
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) merupakan bagian dari Subholding Power & New Renewable Energy (PNRE) PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang eksplorasi, eksploitasi, dan produksi panas bumi.
Saat ini PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang sebesar 1.932 MW, terbagi atas 727 MW yang dioperasikan dan dikelola langsung oleh PGE dan 1.205 MW dikelola dengan skema Kontrak Operasi Bersama.
Kapasitas terpasang panas bumi di wilayah kerja PGE berkontribusi sekitar 70% dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia, dengan potensi pengurangan emisi CO2 sebesar sekitar 10 juta ton CO2 per tahun.
Sebagai world class green energy company, PGE ingin menciptakan nilai dengan memaksimalkan pengelolaan end-to-end potensi panas bumi beserta produk turunannya serta berpartisipasi dalam agenda dekarbonasi nasional dan global untuk menunjang Indonesia net zero emission 2060.
PGE memiliki kredensial ESG yang sangat baik, dengan 20 penghargaan PROPER Emas sejak 2011 sampai 2026 dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.
Baca Juga:Syal Khusus Jadi Identitas Penyelamat Jamaah Haji KarawangEndang Sodikin Berharap Kebijakan Ketenagakerjaan Karawang Selaras Astacita Presiden Prabowo
PGE juga termasuk perusahaan dengan risiko ESG sangat rendah, yang menempatkannya sebagai peringkat 1 dari 679 perusahaan di Sektor Utilitas Global pada Sustainalytics ESG Risk Rating. **
