Oleh: Asep SupriatnaDosen dan Kaprodi PAI Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS)
LAYAR gawai kini perlahan menggeser lembaran kitab kuning di sudut-sudut pesantren. Kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) seperti ChatGPT dan berbagai aplikasi fikih digital telah memudahkan santri dalam mencari jawaban hukum agama hanya dalam hitungan detik. Fenomena ini memicu pertanyaan yang terdengar provokatif: akankah peran kiai di masa depan tergantikan oleh algoritma?Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua yang sarat tradisi, pesantren kini dihadapkan pada dilema antara mengikuti arus modernisasi atau mempertahankan orisinalitasnya. Pandangan saya tegas, secanggih apa pun algoritma kecerdasan buatan berkembang, ia hanya mampu mengambil alih fungsi transfer pengetahuan (transfer of knowledge), namun tidak akan pernah bisa menggantikan posisi kyai dalam proses pembentukan karakter, moral, dan spiritual (transfer of value).Secara teknis, AI memang memiliki keunggulan mutlak dalam hal kecepatan dan volume data. Algoritma dapat memindai ribuan kitab klasik, merangkum berbagai pendapat ulama, dan menyajikannya dalam hitungan detik tanpa ada satu harakat pun yang terlewat. Santri modern tidak lagi harus membalik ratusan halaman Hasyiyah al-Banjuri untuk mencari hukum suatu perkara fikih kontemporer. Di sinilah AI mengambil peran sebagai asisten akademis yang sangat efisien untuk memperkaya khazanah intelektual santri. Namun, keunggulan komparatif ini sering kali mengecoh kita untuk menyamakan “informasi” dengan “ilmu”.Tantangan terbesar dari penggunaan AI di dunia pesantren adalah hilangnya dimensi sanad (mata rantai keilmuan). Dalam tradisi Islam, ilmu bukan sekadar tumpukan informasi yang diunduh dari mesin pencari, melainkan berkah yang mengalir melalui transmisi lisan dari guru ke murid. Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menegaskan bahwa tidak boleh mengambil ilmu kecuali dari orang yang telah sempurna keahliannya, tampak jelas kelayakannya, dan terpercaya pemahamannya. Kehadiran fisik seorang guru berfungsi sebagai filter kebenaran, sebuah validasi otoritatif yang mustahil dilakukan oleh deretan kode biner kecerdasan buatan yang bekerja berdasarkan statistik kata semata.Lebih jauh lagi, pendidikan di pesantren pada hakikatnya bertumpu pada konsep tarbiyah dan ta’dib (penanaman adab). Kiai bukan sekadar “mesin penjawab” pertanyaan santri, melainkan seorang murabbi (pendidik jiwa) yang memberikan keteladanan hidup secara langsung. Imam al-Ghazali dalam kitab monumentalnya Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa hak seorang pendidik terhadap muridnya adalah seperti hak orang tua terhadap anaknya, yang mengemban tugas besar untuk menyelamatkan jiwa sang murid. Kiai mengajarkan bagaimana bersabar saat menghadapi kesulitan, bagaimana bersikap tawadhu, serta bagaimana membaca realitas sosial masyarakat dengan kearifan batin yang melibatkan empati dan kedalaman spiritual manusiawi.Data di lapangan menunjukkan bahwa krisis moral generasi muda hari ini bukan disebabkan oleh kurangnya informasi, melainkan krisis keteladanan. Di sinilah letak batas kaku teknologi: AI bisa menghasilkan teks khotbah yang sangat menyentuh, tetapi AI tidak bisa menangis saat mendoakan santri-santrinya di sepertiga malam. Kehadiran fisik kiai, tatapan matanya, hingga kebiasaan sehari-harinya adalah kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yang menjadi fondasi kekuatan pesantren selama berabad-abad dan tidak akan pernah bisa direplikasi oleh algoritma.Sebagai penutup, kita harus menyikapi kehadiran AI di pesantren bukan sebagai ancaman yang harus ditakuti, melainkan sebagai alat bantu (tool) yang harus dikendalikan. Posisi kiai sebagai penuntun spiritual dan teladan moral tetap tidak tergantikan oleh kecerdasan buatan mana pun. Oleh karena itu, pesantren perlu merumuskan regulasi pemanfaatan AI yang bijak, di mana teknologi digunakan untuk mempercepat riset literatur santri, sementara bimbingan kyai tetap menjadi filter utama. Mari kita dorong digitalisasi pesantren tanpa harus mencabut akar tradisi dan adab yang telah menjadi ruh peradaban Islam. (*)
