Duka di Balik Canting: Kisah Keluarga Menghidupkan Jiwa Batik Karawang Setelah Kehilangan Anak

Duka di Balik Canting: Kisah Keluarga Menghidupkan Jiwa Batik Karawang Setelah Kehilangan Anak
Duka di Balik Canting: Kisah Keluarga Menghidupkan Jiwa Batik Karawang Setelah Kehilangan Anak
0 Komentar

KBEONLINE.ID KARAWANG — Dibalik tenangnya Perum Royal Residence, Tanjungpura, Karawang Barat, aroma malam yang dipanaskan lamat-lamat tercium. Di sanalah Sugianto (63) bersama istrinya, Lilis Isnariyani W (61), dan sang putra, Firman Sugianto Putra (26), menghabiskan hari-hari mereka. Bukan sekadar memproduksi kain, lewat Sanggar Putri Damar Batik, keluarga kecil ini sedang memikul misi besar: memastikan estafet budaya batik tidak terputus di tangan generasi muda.

Langkah kaki mereka kini lebih banyak dihabiskan dari satu sekolah ke sekolah lain, serta dari kampus ke ruang-ruang komunitas. Mulai dari menjadi pembicara dalam seminar akademis hingga membimbing jemari kaku para siswa yang baru pertama kali memegang canting, semuanya dilakoni demi membumikan kembali batik di hati masyarakat.

Perjalanan panjang ini sejatinya telah dimulai sejak tahun 2010 silam. Sebelum mendedikasikan hidup pada kain mori dan malam, Sugianto dan Lilis merupakan pekerja kantoran di hiruk-pikuk Jakarta dan Bekasi. Panggilan jiwa untuk melestarikan warisan leluhur akhirnya menuntun mereka berbelok arah ke dunia batik.

Baca Juga:Satu Jalur Banyak Wisata! Ini Rute Lengkap Ciwidey dari Kawah Putih hingga Situ PatenggangMasih Kelas 2 SD Tapi Sudah Juara! Rahasia Regu Junior Palsapat SDN Palumbonsar IV Borong Banyak Trofi

“Awalnya kami belajar dari workshop bersama Balai Besar Batik. Setelah itu mulai dipercaya memberikan pelatihan di sekolah-sekolah sampai sekarang,” kenang Sugianto, Rabu (20/5).

Namun, jalan yang mereka tempuh tidak selalu mulus. Di tengah semangat yang sedang menggebu, badai ujian datang menerpa saat putra sulung mereka mengembuskan napas terakhir akibat penyakit kanker. Duka mendalam sempat menghentikan seluruh aktivitas mereka di ibu kota, sebelum akhirnya mereka memilih bangkit dan menjadikan batik sebagai terapi penyembuh lara.

“Karena batik ini bukan sekadar usaha, tapi juga perjuangan dan semangat untuk terus berkarya,” tutur Lilis.

Keputusan untuk bangkit terbukti berbuah manis. Melalui Sanggar Putri Damar Batik, mereka bertransformasi menjadi mentor bagi ribuan orang di berbagai penjuru daerah, mulai dari Jakarta, Bandung, Cilacap, hingga menyeberang ke Pekanbaru. Di Karawang sendiri, pelosok daerah seperti Batujaya, Tirtajaya, hingga Rengasdengklok telah mereka jelajahi demi menularkan keterampilan membatik.Bagi Sugianto, membatik tidak boleh sekadar dilihat sebagai kegiatan masa lalu yang menjemukan. Keterampilan ini, menurutnya, adalah modal berharga yang mampu membuka gerbang ekonomi kreatif bagi masa depan para pelajar agar tidak melulu terpaku pada lapangan kerja formal.

0 Komentar