Obar mengungkapkan, jalur trem Karawang–Rengasdengklok dahulu melintas dari stasiun lama di kawasan Pasar Lama, kemudian melewati Jalan Tuparev hingga menuju Rengasdengklok.
“Jalur trem itu dulu dimulai dari stasiun lama Pasar Lama, lalu melintas ke Tuparev hingga Rengasdengklok. Itu menunjukkan nilai sejarah Jalan Tuparev sangat tinggi,” ungkapnya.
Di sekitar kawasan Tuparev dan Pasar Lama, aktivitas perdagangan masyarakat Tionghoa juga berkembang pesat. Deretan toko dan bangunan lama yang tumbuh di kawasan tersebut membentuk suasana pecinan yang menjadi salah satu pusat ekonomi Karawang kala itu.
Baca Juga:Pemilihan BPD Sukadami untuk Keterwakilan Perempuan Tuntas, Leilanda Jadi Peraih Suara TerbanyakRekomendasi Hatchback Bekas Rp100 Jutaan yang Nyaman dan Irit untuk Harian
Meski kini sebagian besar bangunan telah berubah fungsi menjadi pertokoan modern, Obar menilai karakter kawasan kota lama masih dapat dirasakan.
“Dulu pusat perdagangan memang terkonsentrasi di sana. Nuansa kota lamanya sebenarnya masih terasa meski banyak bangunan yang sudah berubah,” ujarnya.
Ia menambahkan, bangunan stasiun lama di kawasan Pasar Lama hingga kini masih berdiri. Namun kondisinya tertutup aktivitas pedagang kaki lima dan dinilai kurang terawat, padahal stasiun tersebut merupakan stasiun pertama di Karawang sebelum operasional dipindahkan ke stasiun yang digunakan saat ini.
Belakangan, kawasan Jalan Tuparev mulai diwacanakan sebagai kawasan kota tua yang dipadukan dengan wisata sejarah dan sentra kuliner malam.
Gagasan tersebut mengemuka saat kegiatan Napak Tilas Mahkota Binokasih yang dihadiri Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Obar menilai konsep itu dapat menjadi identitas baru bagi Karawang, asalkan tetap mempertahankan unsur sejarah yang melekat pada kawasan tersebut.
“Penataannya harus dibuat unik, rapi, dan memiliki ciri khas agar karakter kota tuanya tetap terjaga,” pungkasnya.(aufa)
