Melihat Kampung Jadul di Balik Megahnya Industri Cikarang : Potret Rumah Panggung Warisan Para Leluhur 

Rumah Panggung Kayu di megahnya Industri Cikarang
Rumah Panggung Kayu di megahnya Industri Cikarang
0 Komentar

Rumah Panggung Kayu Akasia yang Bertahan Puluhan Tahun

Salah satu daya tarik utama Desa Bojongmangu adalah keberadaan rumah panggung tradisional berbahan kayu akasia yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Rumah-rumah ini dibangun menggunakan material kayu yang dahulu tumbuh melimpah di sekitar kebun warga. Menariknya, warga tidak perlu membeli bahan bangunan mahal karena pohon akasia tumbuh alami dan diwariskan dari lingkungan sekitar.

Kayu akasia atau yang oleh warga disebut kayu pornis dikenal memiliki tekstur keras dan daya tahan luar biasa. Salah seorang warga bahkan menceritakan bahwa rumah panggung miliknya dibangun sejak tahun 1994 dan hingga kini kondisinya masih sangat kuat. Papan lantai, pintu, dinding, hingga struktur utama rumah masih menggunakan material asli tanpa banyak mengalami kerusakan berarti.

Ketahanan rumah panggung ini menjadi bukti kecerdasan masyarakat zaman dahulu dalam memilih bahan bangunan. Selain kuat, kayu akasia juga terkenal sulit dimakan rayap. Inilah yang membuat rumah-rumah tradisional di Desa Bojongmangu mampu bertahan lebih dari puluhan tahun, bahkan ketika sebagian besar rumah modern membutuhkan renovasi dalam waktu yang jauh lebih cepat.

Baca Juga:Tradisi Lama dengan Sasaran Baru: DPPKB Karawang Salurkan Daging Kurban Sasar Ratusan Balita StuntingCuma Rp500 Ribuan Bisa Dapat Penginapan View Kelas Atas di Puncak Bogor : Bangun Tidur Langsung Lihat Gunung!

Kearifan Arsitektur Tradisional yang Sarat Fungsi

Rumah panggung di Desa Bojongmangu tidak dibangun sembarangan. Setiap bagian memiliki fungsi penting yang diwariskan dari pengetahuan leluhur. Salah satu bagian utama adalah umpak, yaitu pondasi penyangga berbahan cor semen yang berfungsi mencegah kayu bersentuhan langsung dengan tanah agar tidak cepat lapuk sekaligus mengurangi risiko serangan rayap.

Selain itu terdapat waton, yakni balok kayu keliling yang menjadi pengikat struktur dasar rumah, mirip fungsi sloof pada bangunan modern. Di bawah lantai rumah terdapat darurung, susunan bambu melintang yang menopang beban rumah bagian atas. Sistem ini membuat rumah panggung menjadi lebih fleksibel sekaligus tetap kokoh meski berada di atas kondisi tanah yang tidak selalu stabil.

Sementara di bagian atas rumah terdapat para-para, yaitu anyaman bambu di bawah atap yang memiliki fungsi penting sebagai penahan debu atau serpihan dari genteng. Tidak hanya itu, struktur ini juga membantu mengurangi rembesan air ketika hujan deras terjadi. Semua detail tersebut menunjukkan bahwa rumah panggung tradisional bukan sekadar estetika, melainkan hasil pemikiran matang masyarakat zaman dahulu.

0 Komentar