KBEONLINE.ID KABUPATEN BEKASI — Di tengah gemerlap pembangunan kawasan industri dan derasnya arus modernisasi Kabupaten Bekasi, masih tersimpan sebuah wajah lama yang tetap bertahan melawan perubahan zaman. Di wilayah selatan Kabupaten Bekasi, tepatnya di Desa Bojongmangu, Kecamatan Bojongmangu, suasana perkampungan jadul dengan deretan rumah panggung kayu masih berdiri kokoh, menghadirkan nuansa khas pedesaan Sunda tempo dulu yang kini mulai sulit ditemukan.
Wilayah ini menjadi seperti lorong waktu yang membawa siapa pun kembali ke masa ketika kehidupan masyarakat berjalan lebih sederhana, hangat, dan dekat dengan alam. Di balik kemegahan jalan besar, proyek pembangunan, hingga aktivitas kendaraan menuju kawasan industri Bekasi-Karawang, terdapat kehidupan masyarakat yang tetap menjaga warisan leluhur mereka secara turun-temurun.
Bukan sekadar perkampungan biasa, kawasan pedesaan di Desa Bojongmangu ini menyimpan cerita tentang ketahanan budaya, kecerdasan arsitektur tradisional, hingga nilai gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat. Rumah-rumah panggung yang berjajar rapi bukan hanya menjadi tempat tinggal, melainkan simbol sejarah panjang kehidupan warga setempat.
Baca Juga:Tradisi Lama dengan Sasaran Baru: DPPKB Karawang Salurkan Daging Kurban Sasar Ratusan Balita StuntingCuma Rp500 Ribuan Bisa Dapat Penginapan View Kelas Atas di Puncak Bogor : Bangun Tidur Langsung Lihat Gunung!
Kampung Tenang di Balik Riuhnya Modernisasi Bekasi
Siapa sangka, di tengah laju pembangunan besar Kabupaten Bekasi, terdapat wilayah yang masih begitu asri dan tenang seperti Desa Bojongmangu, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi atau lebih familiar Cikarang. Secara geografis, wilayah ini berada di bagian selatan Kabupaten Bekasi dan berbatasan dengan kawasan menuju Loji, Karawang Selatan, hingga jalur penghubung ke arah Cariu, Bogor. Posisi ini membuat Bojongmangu memiliki karakter unik sebagai daerah perbukitan sekaligus jalur lintasan menuju sejumlah kawasan wisata alam.
Menariknya, suasana berubah drastis ketika memasuki kawasan perkampungan warga. Jika di luar area desa kendaraan besar dan mobilitas industri terasa begitu padat, di bagian dalam kampung justru hadir suasana damai dengan pepohonan rindang yang masih mendominasi pemandangan. Udara terasa lebih sejuk, suara kendaraan perlahan menghilang, digantikan suara burung, semilir angin, serta aktivitas warga yang berjalan santai di sekitar rumah panggung mereka.
Kontras inilah yang menjadikan Desa Bojongmangu terasa istimewa. Modernisasi memang terus bergerak mendekat, tetapi kampung ini seakan tetap menjaga ritmenya sendiri. Warga masih hidup dengan pola keseharian sederhana, jauh dari kesibukan kota industri. Situasi ini menjadikan Bojongmangu seperti serpihan kecil Bekasi tempo dulu yang masih bertahan hingga sekarang.
