KBEONLINE.ID – Pernah tanpa sadar berbicara sendiri saat sedang bingung, kesal, mencari barang hilang, atau bahkan saat sedang sendirian? Banyak orang mungkin merasa malu ketika menyadari kebiasaan tersebut, terlebih jika ketahuan orang lain. Tidak sedikit pula yang menganggap berbicara sendiri sebagai perilaku aneh. Padahal, menurut kajian psikologi dan neurologi, kebiasaan ini justru tergolong normal dan menjadi bagian alami dari cara kerja otak manusia dalam memproses pikiran, emosi, serta tekanan hidup sehari-hari.
Berbicara sendiri atau self-talk merupakan bentuk komunikasi internal yang dilakukan seseorang terhadap dirinya sendiri. Aktivitas ini bisa muncul dalam bentuk gumaman kecil, percakapan verbal, hingga dialog batin di dalam pikiran. Para ahli menjelaskan bahwa otak menggunakan metode ini untuk membantu seseorang memahami situasi, menyusun keputusan, mengendalikan emosi, hingga mengurai masalah yang sedang dihadapi. Saat seseorang merasa stres, marah, cemas, atau terlalu banyak pikiran, berbicara sendiri sering menjadi cara spontan untuk menenangkan diri dan mencari kejelasan atas apa yang sedang terjadi.
Kebiasaan yang Sudah Dimulai Sejak Masa Kanak-Kanak
Menariknya, kebiasaan berbicara sendiri sebenarnya bukan sesuatu yang muncul saat dewasa. Fenomena ini telah dimulai sejak seseorang masih kecil. Anak-anak sangat sering berbicara kepada dirinya sendiri ketika bermain, belajar, atau mencoba memahami sesuatu di sekitarnya. Misalnya saat menyusun balok, anak kecil bisa saja berkata, “Yang ini di sini, nanti jatuh,” atau “Aku harus cari yang besar.” Menurut para peneliti perkembangan anak, kebiasaan tersebut memiliki fungsi penting dalam membentuk pola berpikir dan keterampilan menyelesaikan masalah.
Baca Juga:Harunya Perpisahan SDN Wanasari 01, Kepala Sekolah Titip Pesan: Jangan Tinggalkan Teman yang KesulitanMeski Diprotes Warga, Minimarket di Kalijaya Tetap Buka 26 Mei, Diduga Ada Manipulasi Tanda Tangan
Pada masa anak-anak, self-talk biasanya dilakukan secara verbal atau terdengar jelas oleh orang lain. Hal itu membantu anak mengorganisasi pikiran, meningkatkan konsentrasi, serta belajar memahami lingkungan sekitar. Namun ketika seseorang tumbuh dewasa, kebiasaan itu mengalami perubahan. Obrolan yang dulunya keluar lewat suara keras perlahan berubah menjadi dialog internal di dalam hati. Orang dewasa tetap berbicara dengan dirinya sendiri, hanya saja lebih sering dilakukan secara diam-diam dalam pikiran.
