Materi inti pelatihan juga mengupas tuntas standarisasi Kriteria Kondisi Ideal Catin untuk mendapatkan status aman atau ‘status hijau’. Kondisi ideal tersebut mencakup rentang usia reproduksi sehat yakni 21 hingga 35 tahun, kadar hemoglobin (Hb) normal berkisar antara 12–16 gram/dl, serta ukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA) yang tidak kurang dari 23,5 sentimeter. Sebaliknya, jika ditemukan satu saja variabel yang tidak memenuhi standar tersebut, maka catin otomatis dikategorikan ke dalam kondisi bahaya atau ‘status merah’ yang memerlukan intervensi khusus.
Lebih lanjut, para kader TPK dibekali strategi perencanaan kehamilan ideal serta pemahaman mendalam untuk menghindari risiko “4 Terlalu”, yaitu hamil terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak anak, dan terlalu dekat jarak kelahiran. Apabila kondisi fisik catin dinilai belum ideal atau masuk dalam status merah, Dr. Eneng Solihah menginstruksikan para kader agar secara persuasif menyarankan penundaan kehamilan terlebih dahulu. Selama masa penundaan tersebut, kader TPK wajib menganjurkan penggunaan alat kontrasepsi sementara, seperti pil atau kondom, guna melindungi kesehatan calon ibu.
Pelatihan ini disambut dengan antusiasme yang sangat tinggi oleh seluruh peserta yang merasa mendapatkan penyegaran wawasan serta tips praktis dalam menghadapi catin di lapangan. Sebagai bentuk tindak lanjut, terbangun komitmen bersama untuk meningkatkan kinerja TPK yang dimulai dari pendataan berkala, mendampingi pemeriksaan fisik ke fasilitas pelayanan kesehatan, hingga berkoordinasi dengan bidan desa dan aparat setempat.
Baca Juga:Dukung Swasembada Nasional, Polres Karawang Sukseskan Panen Raya Jagung Bersama Petani LokalSokong Swasembada Pangan, Polres Karawang Intensifkan Pendampingan Kelompok Tani
Kader TPK berkomitmen memberikan edukasi intensif minimal selama tiga bulan bagi catin di area merah sampai mereka dinyatakan layak hamil, serta melaporkan seluruh progresnya secara digital melalui aplikasi El-Simil.
Imas, menyampaikanapresiasi yang mendalam serta rasa terima kasihnya kepada Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Bandung atas perhatian besar yang diberikan kepada desanya. Ia berharap ilmu yang telah ditransfer dapat segera diaplikasikan oleh para kader demi menekan angka kejadian stunting di wilayah Kecamatan Pangkalan.
“Dengan peningkatan kapasitas ini, kami berharap kinerja kader TPK semakin optimal, seluruh calon pengantin dapat terpantau dengan baik, dan bayi-bayi yang lahir di Desa Mulangsari ke depan tumbuh menjadi anak-anak yang sehat, cerdas, tanpa stunting,” pungkas Imas.(Aufa)
