KBEONLINE.ID – Tol Cipularang dikenal sebagai salah satu jalur penghubung tersibuk antara Jakarta dan Bandung. Namun di balik ramainya kendaraan yang melintas setiap hari, terdapat satu titik yang sejak lama menjadi perbincangan masyarakat, yakni kawasan KM 97 yang berada di wilayah Purwakarta.
Bukan hanya karena kontur jalannya yang menantang, kawasan ini juga menyimpan beragam cerita mistis yang diwariskan dari generasi ke generasi. Cerita-cerita tersebut kembali mencuat setelah seorang kreator konten menelusuri langsung kawasan Gunung Hejo yang berada tepat di sekitar KM 97 Tol Cipularang.
Menyusuri Jalur Rahasia di Bawah Tol Cipularang
Perjalanan menuju Gunung Hejo ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Berbeda dengan peziarah pada umumnya yang menggunakan akses utama, penelusuran kali ini dimulai dari jalur bawah tol yang jarang diketahui masyarakat luas.
Baca Juga:Rekomendasi Kegiatan Lulus Sekolah Anak Putih Abu, Wajib Cobain Touring di Selatan Jawa BaratKomunikasi Mandek Karang Taruna Jomin Barat Tuntut PT CSI Duduk Bersama
Perjalanan diawali dengan menyusuri hutan yang cukup lebat di sisi jalan tol. Jalurnya berupa tanah merah dengan kontur berbukit yang menguras tenaga. Di beberapa titik, semak belukar dan akar pohon membuat perjalanan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Titik paling menegangkan muncul saat rombongan harus melewati sebuah gorong-gorong besar tepat di bawah badan Tol Cipularang. Kondisi terowongan yang gelap, lembap, dan dipenuhi suara gema kendaraan dari atas menciptakan suasana yang membuat bulu kuduk merinding.
Setelah keluar dari gorong-gorong, perjalanan berlanjut melalui tangga beton yang konon dibuat untuk memudahkan akses menuju situs yang dianggap sakral oleh sebagian masyarakat setempat.
Petilasan yang Sering Disalahpahami Sebagai Makam
Setelah mendaki cukup jauh, rombongan tiba di kawasan puncak Gunung Hejo yang selama ini dikenal sebagai lokasi petilasan Eyang Prabu Siliwangi.
Banyak orang mengira tempat tersebut merupakan makam asli. Namun menurut penjaga situs, lokasi itu sebenarnya adalah petilasan atau tempat yang dipercaya pernah digunakan sebagai tempat singgah oleh tokoh yang dihormati masyarakat Sunda tersebut.
Di area puncak terdapat saung sederhana yang biasa digunakan untuk menerima tamu dan peziarah. Tak jauh dari sana terdapat area berpagar yang berisi batu-batu tua dan gundukan yang menjadi pusat kegiatan doa serta ziarah.
