Menanti Live Debat Wapres Gibran dengan Tiyo Adrianto

FEB UBP Karawang
I Made Defa Modisya (Mahasiswa Prodi Manajemen FEB UBP Karawang) --KBE--
0 Komentar

Banyak pengamat membandingkan langkah Gibran ini dengan pola komunikasi sang ayah, Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Jokowi memang memiliki rekam jejak panjang dalam mengundang elemen pengunjuk rasa masuk ke Istana Kepresidenan sebagai cara meredam ketegangan di jalanan. Gaya blusukan yang menjadi ciri khasnya bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Ia adalah bentuk komunikasi tatap muka yang meminimalkan gangguan dalam penyampaian pesan, sejalan dengan teori komunikasi Shannon dan Weaver (1949) yang menekankan pentingnya mengurangi noise agar pesan tersampaikan lebih jernih dan kontekstual. Dalam perspektif manajemen, ini relevan dengan konsep downward communication yang efektif: pesan mengalir ke bawah, sekaligus membuka ruang umpan balik dari bawah ke atas.

Di sinilah gaya komunikasi Gibran dan Tiyo benar-benar berbeda, dan perbedaan itulah yang membuat netizen ingin melihat keduanya beradu di panggung yang sama. Gibran memilih framing keterbukaan dan dialog, sebuah citra yang menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang humanis dan mendengar.

Sementara Tiyo Adrianto memframing dirinya sebagai suara rakyat yang tak terbeli, kritis, dan berani menantang. Menurut Goffman (1974), framing adalah cara mengemas isu agar memengaruhi persepsi publik, dan keduanya melakukannya dengan sangat efektif meskipun lewat jalur yang berbeda. Lebih jauh, teori agenda-setting yang dikemukakan McCombs dan Shaw (1972) menjelaskan mengapa wacana debat ini bisa bergulir begitu cepat: media dan media sosial memiliki kemampuan menentukan isu mana yang dianggap penting oleh publik, dan perdebatan soal gaya komunikasi kepemimpinan dua tokoh muda ini kini menjadi isu paling panas.

Baca Juga:Keren! 5 Tim Karawang Lolos LJI U10 dan U12 Tingkat Jabar, Bukti Pembinaan Sepak Bola Usia Dini Berjalan BaikPastikan Hasil Optimal, Polres Karawang Pantau Berkala Lahan Jagung Ketahanan Pangan

Di sisi lain, munculnya Tiyo Adrianto sebagai figur yang mendapat perhatian publik menunjukkan bahwa komunikasi kepemimpinan juga dapat muncul dari luar struktur pemerintahan. Tiyo membawa pendekatan komunikasi yang lebih kritis. hal ini menjadi bukti bahwa perkembangan teknologi dan media sosial telah mengubah cara masyarakat melihat seorang pemimpin. Saat ini, pengaruh tidak hanya datang dari jabatan formal, tetapi juga dari kemampuan seseorang dalam membangun kepercayaan dan menyampaikan gagasan yang dianggap relevan oleh publik.

Mead (1934) dalam teori simbolik interaksionisme menegaskan bahwa makna terbentuk melalui interaksi sosial. Ketika Gibran menyalami satu per satu mahasiswa di depan istana, itu bukan sekadar gestur sopan santun. Itu adalah tindakan simbolik yang membangun makna kesetaraan antara pemimpin dan yang dipimpin. Dalam ilmu manajemen, perilaku semacam ini berkaitan erat dengan kepemimpinan transformasional, yaitu gaya kepemimpinan yang menggerakkan pengikut melalui inspirasi dan keteladanan, bukan sekadar instruksi dan otoritas. Komunikasi yang hangat, terbuka, dan penuh empati menjadi fondasi dari model kepemimpinan ini.

0 Komentar