Menanti Live Debat Wapres Gibran dengan Tiyo Adrianto

FEB UBP Karawang
I Made Defa Modisya (Mahasiswa Prodi Manajemen FEB UBP Karawang) --KBE--
0 Komentar

Namun, baik Gibran maupun para pemimpin populis pada umumnya perlu mewaspadai jebakan komunikasi yang berlebihan ke arah emosionalitas. Habermas (1984) mengingatkan bahwa legitimasi komunikasi politik tidak cukup hanya dibangun di atas kedekatan emosional. Ia harus bersandar pada rasionalitas dan akuntabilitas substansi. Penyederhanaan pesan yang terlalu berlebihan, demi terdengar akrab di telinga rakyat, berisiko mengaburkan kompleksitas kebijakan publik yang sesungguhnya.

Komunikasi populis yang kehilangan substansi hanya akan menjadi populisme kosong, menarik di permukaan namun rapuh di dalamnya. Keseimbangan antara kedekatan emosional dan ketepatan informasi bukan pilihan, melainkan tuntutan sekaligus dari seorang pemimpin modern.

Pelajaran dari fenomena Gibran versus Tiyo ini sesungguhnya tidak hanya relevan bagi pemimpin negara. Bagi kami, para mahasiswa berpendapat pimpinan organisasi yang komunikatif mampu menyelaraskan tujuan anggota yang beragam. Sebaliknya, pemimpin yang tertutup hanya akan menciptakan kesenjangan antara dirinya dan tim yang dipimpinnya.

Baca Juga:Keren! 5 Tim Karawang Lolos LJI U10 dan U12 Tingkat Jabar, Bukti Pembinaan Sepak Bola Usia Dini Berjalan BaikPastikan Hasil Optimal, Polres Karawang Pantau Berkala Lahan Jagung Ketahanan Pangan

Perilaku organisasi mengajarkan bahwa komunikasi adalah perekat dari setiap struktur, dan tanpa komunikasi yang baik, visi sebagus apapun akan kandas sebelum terwujud. Debat live Gibran versus Tiyo mungkin masih wacana. Tapi pelajaran yang bisa dipetik dari pertarungan dua gaya komunikasi kepemimpinan ini sudah nyata di depan mata kita semua. (*)

0 Komentar