Oleh: I Made Defa Modisya
Mahasiswa Prodi Manajemen FEB UBP Karawang
BAYANGKAN dua tokoh muda Indonesia berdiri di atas panggung yang sama, berhadapan langsung, masing-masing membawa gaya komunikasi yang bertolak belakang namun sama-sama menyala. ang berbeda namun sama-sama memiliki pengaruh besar di ruang publik. Wacana debat antara Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Tiyo Adrianto, mantan Ketua BEM UGM yang dikenal aktif menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah, menjadi fenomena menarik untuk diamati. Wacana ini bukan sekadar hiburan politik. Ini adalah gambaran nyata bagaimana komunikasi seorang pemimpin dapat membentuk persepsi, membangun kepercayaan, dan memengaruhi hubungan antara pemimpin dengan masyarakat.
Semuanya bermula ketika Wapres Gibran mengambil keputusan berani pada 15 Juni lalu. Di tengah gelombang demonstrasi mahasiswa yang memadati kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, ia membuka pintu istana untuk dialog langsung. Pertemuan tersebut menghasilkan berbagai respons dari masyarakat. Sebagian melihatnya sebagai bentuk keterbukaan seorang pemimpin dalam mendengarkan aspirasi, sedangkan sebagian lainnya mempertanyakan apakah langkah tersebut memiliki tujuan politik tertentu.
Pertemuan berlangsung lebih dari satu jam. Di akhir sesi, Gibran mengantarkan sendiri 15 perwakilan mahasiswa ke teras istana, menyalami mereka satu per satu, lalu berfoto bersama. Mahasiswa memberikan tenggat 5×24 jam kepada pemerintah untuk memenuhi tuntutan mereka sebelum aksi lanjutan digelar.
Baca Juga:Keren! 5 Tim Karawang Lolos LJI U10 dan U12 Tingkat Jabar, Bukti Pembinaan Sepak Bola Usia Dini Berjalan BaikPastikan Hasil Optimal, Polres Karawang Pantau Berkala Lahan Jagung Ketahanan Pangan
Dari sinilah percikan wacana debat itu muncul. Tiyo Adrianto, figur yang telah lama membangun reputasinya lewat kritik-kritik tajam di media sosial, tiba-tiba menjadi sorotan sebagai lawan debat ideal bagi Wapres. Publik mendesak keduanya tampil. Bukan sekadar ingin menonton pertarungan argumen, melainkan ingin menyaksikan secara langsung bagaimana dua model komunikasi kepemimpinan itu beradu: satu dari pihak kekuasaan yang institusional, satu lagi dari suara akar rumput yang kritis. Sebagai mahasiswa yang sedang mempelajari perilaku organisasi, saya melihat fenomena ini jauh lebih dalam dari sekadar drama politik viral.
Dalam studi perilaku organisasi, salah satu pelajaran paling mendasar adalah ini: Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki visi dan kewenangan, tetapi juga harus mampu menyampaikan gagasan secara efektif kepada orang-orang yang dipimpinnya. Komunikasi bukan sekadar alat bantu kepemimpinan, ia adalah inti dari kepemimpinan itu sendiri. Keputusan Gibran membuka audiensi adalah langkah komunikatif yang kuat karena ia mengirimkan pesan non-verbal yang jelas: pemerintah mau mendengar, bukan hanya memerintah. Dalam kerangka teori komunikasi Harold Lasswell, tindakan ini memenuhi semua unsur: siapa yang berbicara, apa pesannya, melalui saluran apa, kepada siapa, dan efek apa yang diharapkan. Dalam konteks ini tindakan dapat dipahami bentuk komuniaksi Gibran bertujuaj untuk meredanya ketegangan dan tumbuhnya kepercayaan publik.
