Willy menerangkan proses pengolahan RDF cukup sederhana. Sampah yang masuk terlebih dahulu dipilah secara manual. Material seperti logam, kaca, dan benda keras lainnya dipisahkan karena tidak dapat diolah menjadi RDF.
“Botol dan material yang masih bisa didaur ulang dipilah manual. Setelah itu sampah masuk mesin pencacah. Sampah organik maupun nonorganik tertentu bisa menjadi RDF. Yang tidak bisa hanya logam, kaca, dan benda padat lainnya,” ujarnya.
Bahkan, sampah yang selama ini sulit dimanfaatkan seperti popok sekali pakai dan plastik multilapis (multilayer) justru dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku RDF.
Baca Juga:DPKPP Karawang dan DPRD Jabar Sosialisasikan Akses Pendanaan bagi Petani dan PeternakTingkatkan Digitalisasi, Pupuk Kujang Luncurkan Ekosistem AI dan Lima Aplikasi Unggulan
Program tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Di setiap lokasi TPST, sekitar 25 warga sekitar dilibatkan dalam proses pemilahan sampah sehingga memperoleh tambahan penghasilan.
Meski demikian, pengembangan RDF sempat terkendala musibah kebakaran yang terjadi di TPST Mekarjati dan Cirejag. Akibat peristiwa itu, sekitar 200 ton RDF yang sebenarnya telah siap dikirim hangus terbakar.
“Padahal saat itu RDF sudah siap sebelum PKS berjalan. Ternyata ada musibah kebakaran,” ungkapnya.
Pasca kejadian tersebut, World Bank langsung melakukan evaluasi dan akan membantu peningkatan sistem keselamatan di lokasi pengolahan RDF.
“Nanti akan disiapkan alat pemadam, APAR, sistem keamanan, termasuk pembangunan gudang penyimpanan. Jadi RDF yang sudah diproduksi dipindahkan dulu ke gudang sebelum didistribusikan ke Indocement,” katanya.
Selain peningkatan aspek keselamatan, World Bank juga berencana melakukan peningkatan kapasitas fasilitas di TPST Mekarjati dan Cirejag. Kapasitas pengolahan yang saat ini sekitar 20 ton per hari ditargetkan meningkat menjadi 40 ton per hari.
Saat ini volume sampah yang masuk ke TPA Jalupang berkisar 360 hingga 400 ton per hari. Dengan pengurangan 60 ton melalui pengolahan RDF, beban TPA memang belum berkurang secara signifikan. Namun DLH optimistis kapasitas pengurangan sampah akan terus meningkat seiring pengembangan fasilitas.
Baca Juga:PERURI dan KTI Foundation Latih Penyandang Disabilitas di Karawang, Bekali Keterampilan SablonPeringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, PT Aisan Nasmoco Industri Gelar Penanaman Pohon hingga Uji Emisi
Ke depan, pemerintah juga menargetkan revitalisasi TPA Jalupang serta mengintegrasikan program pengurangan sampah dengan program nasional Waste to Fuel. Selain itu, pengelolaan sampah dari TPS3R juga akan diperkuat dengan menggandeng investor.
Di sisi lain, DLH terus menyosialisasikan kewajiban pemilahan sampah sejak dari sumber sesuai peraturan daerah. Sosialisasi telah dimulai kepada pemerintah desa dan kecamatan agar masyarakat terbiasa memilah sampah sebelum dibuang.
