Pembelajaran yang bermakna akan membantu siswa memahami bahwa membaca dan berhitung bukan sekadar tuntutan sekolah, tetapi keterampilan yang dibutuhkan sepanjang hayat.
Membangun Kolaborasi untuk Masa Depan Anak Indonesia
Penguatan literasi dan numerasi tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Orang tua, masyarakat, dan pemerintah perlu membangun kolaborasi yang berkelanjutan. Kebiasaan membaca di rumah, tersedianya bahan bacaan yang menarik, serta lingkungan yang mendukung budaya belajar menjadi faktor penting dalam meningkatkan kemampuan siswa.
Kurikulum Merdeka telah memberikan ruang yang lebih luas bagi sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Kesempatan ini perlu dimanfaatkan untuk menghadirkan kegiatan belajar yang mendorong siswa berpikir kritis, kreatif, dan mampu menyelesaikan masalah nyata.
Baca Juga:DPRD Karawang Dorong Disdikbud Antisipasi Pemadaman Listrik Saat SPMBPemadaman Listrik Bergilir PLN di Karawang Berpotensi Ganggu Proses SPMB
Literasi dan numerasi bukan sekadar program pendidikan atau target asesmen nasional. Keduanya adalah pondasi yang menentukan kualitas generasi masa depan. Jika pondasi ini masih lemah, maka akan sulit membangun kemampuan-kemampuan lain yang dibutuhkan pada abad ke-21.
Sudah saatnya seluruh pemangku kepentingan menjadikan literasi dan numerasi sebagai gerakan bersama. Karena setiap anak yang duduk di bangku sekolah dasar hari ini adalah calon pemimpin, inovator, dan penggerak bangsa di masa depan. Penguatan literasi dan numerasi sejak dini merupakan investasi terbaik untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing. (*)
