Masuknya tepung terigu berkaitan erat dengan perdagangan internasional dan masa kolonial Belanda. Namun, penyebaran budaya mengolah adonan tepung secara luas justru banyak dipengaruhi oleh komunitas Tionghoa yang telah lama bermukim di Indonesia. Mereka membawa tradisi membuat mi, pangsit, bakpao, hingga berbagai olahan tepung lainnya.
Seiring berjalannya waktu, budaya kuliner tersebut berbaur dengan cita rasa lokal dan melahirkan berbagai makanan yang kini dianggap sangat Indonesia, seperti bakso, mie ayam, siomay, batagor, cakwe, hingga aneka gorengan. Proses akulturasi inilah yang membuat makanan berbahan tepung akhirnya menjadi bagian dari identitas kuliner masyarakat modern.
Kebijakan Orde Baru Membuat Terigu Semakin Mendominasi
Dominasi tepung terigu di Indonesia ternyata juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah pada era Orde Baru. Saat itu, pemerintah berupaya menjaga ketahanan pangan ketika produksi dan ketersediaan beras sering mengalami tekanan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membuka impor gandum dalam jumlah besar sebagai alternatif sumber pangan.
Untuk mendukung kebijakan tersebut, industri penggilingan gandum nasional berkembang pesat sehingga pasokan tepung terigu menjadi melimpah. Harga tepung pun menjadi relatif murah dan stabil dibandingkan banyak komoditas pangan lainnya. Kondisi ini mendorong pelaku industri makanan, usaha kecil, hingga rumah tangga semakin sering menggunakan tepung sebagai bahan utama berbagai jenis makanan.
Hukum ekonomi kemudian bekerja secara alami. Ketika pasokan melimpah dan harga murah, konsumsi akan meningkat. Dalam beberapa dekade, masyarakat terbiasa mengonsumsi makanan berbahan tepung setiap hari, mulai dari sarapan, camilan, hingga makanan utama. Kebiasaan tersebut akhirnya membentuk pola konsumsi yang bertahan hingga sekarang.
Mengapa Gorengan dan Jajanan Aci Sulit Ditolak?
Selain faktor ekonomi dan sejarah, ada alasan biologis yang membuat manusia sulit berhenti mengonsumsi makanan berbahan tepung, terutama yang digoreng. Menurut berbagai penelitian tentang nutrisi dan ilmu saraf, kombinasi karbohidrat, lemak, serta rasa gurih mampu merangsang sistem penghargaan (reward system) di dalam otak.
Saat seseorang mengonsumsi gorengan atau makanan tinggi karbohidrat dan lemak, otak akan melepaskan hormon dopamin yang menimbulkan rasa senang dan puas. Inilah sebabnya banyak orang berniat membeli satu gorengan, tetapi akhirnya menghabiskan satu bungkus sekaligus karena muncul keinginan untuk terus mengulang sensasi tersebut.
