Kenapa Jajanan di Indonesia Didominasi Makanan Serba Tepung? Ternyata Ada Sejarah dari Kolonial Belanda

Gorengan
Jajanan Indonesai didominasi oleh tepung, salah satu contohnya gorengan
0 Komentar

KBEONLINE.ID – Gorengan, ayam tepung, bakso, siomay, batagor, cilok, cireng, cilor, hingga aneka jajanan kaki lima menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Hampir di setiap sudut jalan, sekolah, hingga kawasan perkantoran, makanan berbahan dasar tepung selalu mudah ditemukan dengan harga yang terjangkau.

Banyak orang mengira dominasi makanan berbahan tepung terjadi semata-mata karena rasanya yang enak dan mengenyangkan. Padahal, di balik popularitas gorengan dan jajanan serba tepung, tersimpan sejarah panjang yang melibatkan kolonialisme, kebijakan ekonomi pemerintah, strategi industri pangan, hingga cara kerja otak manusia dalam merespons makanan.

Fenomena ini bukan hanya soal selera, tetapi juga berkaitan dengan perubahan budaya makan masyarakat Indonesia selama puluhan tahun. Berikut alasan mengapa makanan berbahan tepung begitu mendominasi kuliner Nusantara.

Baca Juga:Bosan Liburan di Mal? Anak SMA Wajib Coba Touring Motor ke Gunung Telomoyo : Pemandangannya Bikin Takjub

Tepung Menjadi Penyelamat Ekonomi Pedagang Kecil

Bagi pedagang kaki lima maupun pelaku usaha kuliner berskala kecil, tepung merupakan bahan baku yang sangat menguntungkan. Dengan harga yang relatif murah dibandingkan daging, ikan, maupun ayam, tepung mampu memperbesar volume makanan sehingga modal produksi menjadi lebih rendah, sementara keuntungan tetap dapat dipertahankan.

Contohnya dapat dilihat pada bakso, siomay, batagor, hingga berbagai gorengan. Penambahan tepung membuat ukuran makanan menjadi lebih besar tanpa harus menambah banyak bahan utama. Strategi ini memungkinkan pedagang menjual makanan dengan harga yang tetap terjangkau di tengah kenaikan harga bahan pangan.

Selain murah, tepung juga memiliki rasa yang netral sehingga mudah dipadukan dengan berbagai bumbu. Tepung bisa diolah menjadi makanan gurih, pedas, manis, hingga renyah sesuai selera pasar. Bahkan dalam beberapa kasus, lapisan tepung yang tebal juga mampu menyamarkan kualitas bahan baku yang mulai menurun setelah digoreng hingga garing.

Jejak Kolonial dan Akulturasi Budaya dalam Kuliner Indonesia

Banyak makanan yang kini dianggap sebagai kuliner khas Indonesia ternyata memiliki akar sejarah dari luar Nusantara. Pada masa lampau, masyarakat Indonesia lebih banyak mengonsumsi beras, jagung, singkong, ubi, talas, dan sagu sebagai sumber karbohidrat utama. Sementara itu, gandum sebagai bahan dasar tepung terigu tidak dapat dibudidayakan secara optimal di iklim tropis Indonesia.

0 Komentar