Di Indonesia, khususnya Jawa Barat, kreativitas masyarakat bahkan melahirkan berbagai makanan berbasis tepung kanji atau aci, seperti cilok, cireng, cimol, cilor, hingga seblak. Meski berbeda bahan dengan tepung terigu karena berasal dari singkong, makanan tersebut tetap menawarkan tekstur kenyal dan cita rasa gurih yang sangat digemari berbagai kalangan, terutama anak muda.
Ketergantungan Terigu Menjadi Tantangan Ketahanan Pangan
Di balik popularitas makanan serba tepung, terdapat tantangan besar bagi ketahanan pangan Indonesia. Hingga kini, hampir seluruh kebutuhan gandum nasional masih bergantung pada impor karena tanaman gandum belum dapat diproduksi secara besar-besaran di Indonesia.
Ketergantungan tersebut membuat harga tepung sangat dipengaruhi kondisi global. Ketika terjadi gangguan pasokan dunia, seperti konflik Rusia-Ukraina pada 2022 yang memengaruhi perdagangan gandum internasional, harga tepung, mi instan, roti, hingga berbagai produk olahan ikut mengalami kenaikan.
Di sisi lain, semakin dominannya makanan berbahan tepung dikhawatirkan membuat masyarakat, terutama generasi muda, mulai melupakan kekayaan pangan lokal seperti singkong, ubi, talas, sorgum, dan sagu yang sejak dahulu menjadi sumber karbohidrat asli Nusantara. Padahal, pangan lokal tersebut memiliki nilai gizi yang baik sekaligus berpotensi memperkuat kemandirian pangan nasional.
Mengonsumsi makanan berbahan tepung tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, memahami sejarah di baliknya dapat menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang tidak kalah lezat, bergizi, dan layak kembali diperkenalkan kepada generasi masa kini.
