Namun sebagai mahasiswa manajemen, saya tidak ingin berhenti pada pujian terhadap proses tersebut. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa pelanggaran semacam ini bisa terjadi sejak awal? Robbins dan Judge (2017) mengingatkan bahwa perilaku tidak etis dalam organisasi seringkali bukan semata-mata kegagalan individu, melainkan cerminan dari lemahnya budaya etika organisasi secara keseluruhan. Jika sosialisasi nilai, pengawasan internal, dan keteladanan pemimpin senior sudah kuat dari awal, kemungkinan pelanggaran serupa dapat diminimalkan.
Dampak dari pelanggaran etika di organisasi publik memang jauh lebih luas dibandingkan di organisasi swasta. Kepercayaan masyarakat adalah modal utama lembaga publik, dan nyatanya kepercayaan itu rapuh. Sekali rusak, proses pemulihannya membutuhkan waktu dan konsistensi yang panjang. Reputasi yang tercoreng juga berpotensi menurunkan motivasi pegawai yang selama ini bekerja dengan dedikasi penuh, karena mereka ikut menanggung stigma akibat perbuatan pemimpinnya. Ini yang membuat saya semakin yakin bahwa penegakan etika bukan sekadar urusan administratif, melainkan kebutuhan strategis organisasi.
Sebagai seorang mahasiswa yang sedang mempelajari perilaku organisasi, saya menarik pelajaran penting dari kasus ini: jabatan yang tinggi bukan jaminan integritas, dan kekuasaan justru adalah ujian terbesar bagi etika seseorang. Tanggung jawab manajerial tidak hanya soal mencapai target kinerja, tetapi juga soal bagaimana cara mencapainya, apakah dengan cara yang benar, adil, dan transparan. Budaya etika harus ditanamkan dari atas ke bawah, dan pemimpin adalah variabel paling kritis dalam membentuk atau menghancurkan budaya tersebut.
Baca Juga:Unsika Jadi Tuan Rumah Pertemuan BKS-PTN Wilayah Barat 2026 FKIP Unsika Gelar Seminar Internasional dan Pertemuan Sela BKS PTN Barat 2026
Sebagai penutup, kasus Ketua Ombudsman RI menurut saya bukan sekadar berita atau bahan studi kasus akademis untuk bahan diskusi kuliah di kelas. Bagi saya, ini adalah cermin yang mengingatkan bahwa etika organisasi adalah komitmen hidup, bukan slogan dinding kantor. Setiap individu dalam organisasi, dari pemimpin hingga staf terbawah, memegang tanggung jawab moral untuk menjaga kepercayaan yang telah dipercayakan kepada mereka. Dan ketika kepercayaan itu dilanggar, harga yang harus dibayar tidak hanya oleh si pelanggar, tetapi oleh seluruh organisasi dan masyarakat yang bergantung padanya. (*)
