Sebagai contoh sederhana, seseorang membeli emas batangan seberat 1 gram dengan harga Rp2,5 juta. Emas tersebut kemudian disimpan selama lima tahun tanpa dijual meskipun harga mengalami kenaikan maupun penurunan dalam jangka pendek.
Apabila lima tahun kemudian harga emas naik menjadi Rp3,5 juta per gram, maka nilai aset yang dimiliki ikut meningkat menjadi Rp3,5 juta. Artinya, investor memperoleh keuntungan sekitar Rp1 juta atau sekitar 40 persen dari modal awal, belum termasuk selisih harga jual dan beli yang biasanya diterapkan oleh toko emas atau produsen logam mulia.
Namun kondisi tersebut belum tentu selalu terjadi. Misalnya harga emas setelah lima tahun hanya naik menjadi Rp2,8 juta per gram, maka keuntungan yang diperoleh hanya sekitar Rp300 ribu. Bahkan pada periode tertentu harga emas juga bisa mengalami koreksi sehingga nilai investasinya sempat turun sebelum akhirnya kembali meningkat dalam jangka panjang.
Baca Juga:Usung Tema 80 Tahun Mengabdi, Polres Karawang Gelar Bakti Kesehatan dan Sosial untuk 658 WargaPesona Keindahan Subang Selatan Tawarkan Alam Asri dan Mata Air Bening yang Menenangkan
Inilah karakter utama investasi emas. Keuntungannya memang cenderung tidak terlalu agresif, tetapi stabil dan memiliki peluang besar mempertahankan daya beli uang dari ancaman inflasi. Karena alasan tersebut, emas lebih sering dipilih sebagai instrumen penyimpan kekayaan dibandingkan sebagai alat untuk mengejar keuntungan besar dalam waktu singkat.
Simulasi Keuntungan Jika Memilih Reksadana
Apabila dana Rp2,5 juta tidak digunakan membeli emas, uang tersebut bisa langsung ditempatkan pada produk reksadana. Berbeda dengan emas, seluruh dana akan dikelola oleh Manajer Investasi profesional yang menyebarkannya ke berbagai aset sehingga investor tidak perlu menganalisis pasar sendiri setiap hari.
Sebagai ilustrasi, apabila seseorang memilih reksadana dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 8 persen per tahun dan hasil tersebut dapat dipertahankan secara konsisten, maka dalam lima tahun nilai investasi Rp2,5 juta berpotensi berkembang menjadi sekitar Rp3,67 juta. Nilai tersebut tentu hanya simulasi karena hasil investasi di pasar modal tidak pernah dijamin dan bisa berubah sesuai kondisi ekonomi.
Potensi keuntungan akan lebih besar apabila investor memilih reksadana saham. Misalnya rata-rata pertumbuhan mencapai sekitar 12 persen per tahun, maka dana Rp2,5 juta berpotensi berkembang menjadi sekitar Rp4,4 juta dalam lima tahun. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan emas pada simulasi sebelumnya, tetapi peluang keuntungan yang besar selalu diiringi risiko yang lebih tinggi.
