KBEONLINE.ID KARAWANG – Pemerintah Kabupaten Karawang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat tren positif dalam penanganan tengkes atau stunting. Berdasarkan data terbaru, jumlah balita stunting yang menjadi sasaran intervensi di wilayah tersebut mengalami penurunan dari 3.517 anak pada Maret 2026 menjadi 3.277 anak pada Mei 2026.
Penurunan ini merupakan buah dari berbagai program intervensi gizi yang gencar dilakukan oleh pemerintah daerah. Salah satu langkah konkretnya adalah penyaluran bantuan pangan berupa 28,5 ton telur yang dialokasikan khusus bagi balita yang terdata selama periode dua bulan tersebut.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) Dinkes Karawang, dr. Nurmala Hasanah, menjelaskan bahwa fluktuasi data ini sangat bergantung pada hasil pemantauan berkala di lapangan.
Baca Juga:Tak Main-Main! Camat dan Sekcam Cikarang Selatan Kompak Sidak Dapur MBG, Jika Melanggar Bisa Diproses HukumEmas Batangan vs Reksadana, Mana yang Lebih Untung? Simulasi Investasi Rp2,5 Juta untuk Pemula
“Data ini bergerak setiap bulan. Namun dari Maret ke Mei 2026 terlihat ada penurunan jumlah balita stunting yang menjadi sasaran intervensi,” ujar dr. Nurmala.
Merujuk pada data Mei 2026, sebaran balita stunting terbanyak masih didominasi oleh tiga wilayah, yakni Kecamatan Telukjambe Barat, Klari, dan Rengasdengklok. Menurut Nurmala, tingginya angka di kawasan tersebut linier dengan besarnya jumlah populasi balita di masing-masing kecamatan.
Dinkes Karawang kini tidak hanya fokus memulihkan balita yang sudah mengalami gangguan pertumbuhan, melainkan juga menggeser fokus pada pencegahan sejak dini, khususnya di tingkat remaja. Strategi ini diwujudkan melalui gerakan “Gres Kece” (Gerakan Remaja Sehat, Keren, dan Cerdas).
Program tersebut mengampanyekan empat pesan utama bagi generasi muda: kebiasaan sarapan sehat, konsumsi tablet tambah darah (TTD), rutin melakukan aktivitas fisik, serta komitmen untuk tidak merokok. Remaja putri menjadi perhatian khusus demi memutus rantai stunting.
“Intervensi juga menyasar remaja, termasuk skrining anemia dan pemberian tablet tambah darah secara rutin. Remaja putri yang mengalami anemia berisiko melahirkan anak dengan masalah gizi apabila tidak ditangani sejak dini,” tambah dr. Nurmala.
Tak hanya itu, edukasi mengenai bahaya rokok konvensional maupun rokok elektrik (vape) kian diintensifkan di lingkungan sekolah. Dinkes Karawang juga mengandalkan program lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) bernama “Sekolah Balatentara”, dengan menyebarkan buku pedoman khusus ke sekitar 500 sekolah di Karawang.
