Ilusi Kendali yang Semu
Menariknya, para psikolog klinis menemukan bahwa doomscrolling sering kali didorong oleh mekanisme pertahanan diri yang keliru. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, manusia memiliki kebutuhan psikologis yang besar akan kendali (sense of control).
Secara tidak sadar, kita merasa bahwa dengan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang suatu musibah atau kabar buruk, kita sedang mempersiapkan diri menghadapi skenario terburuk. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Karena informasi di internet tidak terbatas, alih-alih mendapatkan rasa aman, akumulasi kabar buruk ini justru membebani kapasitas kognitif kita, meningkatkan hormon kortisol (hormon stres), dan berakhir pada kelelahan mental (digital burnout).
Memutus Rantai Doomscrolling
Memahami bahwa otak kita memiliki bias terhadap hal-hal negatif adalah langkah pertama untuk merebut kembali kendali atas perhatian kita. Kita tidak bisa mengubah cara kerja otak yang sudah berevolusi selama jutaan tahun, tetapi kita bisa mengubah lingkungan digital kita.
Baca Juga:Budaya 'Cuma Baca': Mengapa Fitur Centang Biru Bisa Memicu Kecemasan Sosial dalam HubunganMitos 'Gamer Toxic': Mengapa Game Online Sering Kali Mengubah Orang Baik Menjadi Pemarah
Membatasi waktu penggunaan aplikasi dengan fitur screen time, secara sadar menyeimbangkan asupan informasi dengan konten yang menginspirasi, serta meletakkan ponsel satu jam sebelum tidur adalah tindakan nyata untuk menyelamatkan kesehatan mental kita. Dunia digital memang dipenuhi oleh distopia, namun ingatlah bahwa kedamaian pikiran Anda terlalu berharga untuk dikorbankan demi algoritma yang haus perhatian.
