KBEonline.id – Pernahkah Anda membuka media sosial di malam hari untuk mencari hiburan, namun justru berakhir terjebak selama berjam-jam membaca berita tentang bencana alam, krisis ekonomi, skandal publik, atau konflik internasional? Anehnya, meskipun menyadari bahwa informasi tersebut membuat perasaan kita cemas dan tidak nyaman, jempol kita seolah menolak untuk berhenti menggeser layar ke bawah. Fenomena modern ini dikenal dengan istilah doomscrolling atau doompitching. Mengapa kita begitu mudah terpaku pada rentetan kabar buruk dan seolah mengabaikan cerita-cerita bahagia yang bertebaran di internet? Jawabannya ternyata tersimpan jauh di dalam sistem pertahanan kuno otak manusia.
Warisan Evolusi dan Negativity Bias
Secara psikologis, kecenderungan manusia untuk lebih memperhatikan hal-hal negatif dibanding hal positif disebut dengan “Negativity Bias” (Bias Negativitas). Konsep ini merupakan salah satu pilar penting dalam psikologi evolusioner. Ribuan tahun lalu, nenek moyang kita harus selalu waspada terhadap ancaman predator atau cuaca ekstrem demi bertahan hidup. Di era purba, mengabaikan tanda-tanda bahaya bisa berarti kematian, sementara mengabaikan hal yang menyenangkan (seperti pemandangan yang indah) tidak memiliki konsekuensi fatal.
Akibatnya, otak manusia berevolusi untuk memprioritaskan informasi yang mengancam keselamatan. Riset neurosains menunjukkan bahwa amigdala—bagian otak yang memproses emosi dan deteksi ancaman—merespons stimulus negatif jauh lebih cepat dan intens dibandingkan stimulus positif. Di era digital, insting purba ini tidak hilang; ia hanya beralih fungsi dari mengamati semak-semak yang bergoyang menjadi mengawasi linimasa media sosial kita.
Baca Juga:Budaya 'Cuma Baca': Mengapa Fitur Centang Biru Bisa Memicu Kecemasan Sosial dalam HubunganMitos 'Gamer Toxic': Mengapa Game Online Sering Kali Mengubah Orang Baik Menjadi Pemarah
Jeratan Dopamin dan Manipulasi Algoritma
Faktor kedua yang membuat kita sulit lepas dari jeratan doomscrolling adalah bagaimana sistem penghargaan (reward system) di otak kita bekerja. Banyak orang mengira dopamin hanya dilepaskan saat kita merasa senang. Faktanya, menurut studi neurosains perilaku, dopamin dilepaskan secara intens ketika otak kita mengantisipasi adanya informasi baru atau jawaban dari ketidakpastian.
Saat kita melakukan doomscrolling, kita sebenarnya sedang mencari “kepastian” di tengah situasi yang tidak menentu. Otak kita terus berpikir, “Jika aku membaca satu artikel lagi, mungkin aku akan paham cara mengatasinya.” Celakanya, algoritma platform media sosial modern didesain untuk membaca perilaku ini. Ketika sistem mendeteksi bahwa Anda menghabiskan waktu lebih lama pada berita-berita yang memicu kemarahan atau kecemasan, algoritma akan terus menyuapi linimasa Anda dengan konten serupa demi menjaga engagement Anda tetap tinggi.
