KBEonline.id – Kita semua pasti punya satu teman di dunia nyata yang dikenal sangat ramah, penyabar, dan jarang sekali mengeluh. Namun, pemandangan tersebut bisa berubah 180 derajat ketika mereka duduk di depan layar, memasang headset, dan masuk ke dalam lobi game online kompetitif. Tiba-tiba saja, sosok penyabar itu bertransformasi menjadi individu yang mudah meledak-ledak, melontarkan kritik tajam, atau bahkan terjebak dalam perilaku toxic kepada rekan setimnya. Fenomena ini memicu sebuah pertanyaan besar: apakah game online memang menarik orang-orang dengan kepribadian buruk, atau justru sistem di dalam game yang memiliki kemampuan untuk mengubah orang baik menjadi pemarah?
Topeng Digital dan Online Disinhibition Effect
Secara psikologis, perubahan perilaku yang drastis ini dapat dijelaskan secara ilmiah melalui konsep bernama Online Disinhibition Effect (Efek Disinhibisi Online). Teori ini dicetuskan oleh Dr. John Suler, seorang profesor psikologi dari Rider University, dalam jurnal ilmiahnya yang terkenal berjudul “The Online Disinhibition Effect” yang diterbitkan di jurnal CyberPsychology & Behavior (2004).
Dr. Suler menjelaskan bahwa manusia cenderung melepaskan rem emosi dan batas kesopanan mereka saat berinteraksi di dunia maya karena beberapa faktor, salah satunya adalah anonimitas (merasa tidak terlihat) dan solipsisme virtual (merasa bahwa tindakan digital tidak memiliki konsekuensi nyata di dunia fisik). Saat seseorang menggunakan nama samaran atau avatar, ego mereka merasa aman dari sanksi sosial dunia nyata, sehingga emosi mentah—termasuk amarah—menjadi jauh lebih mudah meluncur tanpa filter moral.
Baca Juga:Mengapa Grafik Fotorealistis Bukan Lagi Jaminan Sebuah Game Terasa SeruMembongkar Paradoks Game Kompetitif: Mengapa Kita Tetap Main Meskipun Bikin Stres
Frustrasi Kolektif atas Hilangnya Kendali
Faktor kedua terletak pada bagaimana struktur game multiplayer kompetitif modern didesain. Validitas fenomena ini diperkuat oleh laporan riset tahunan dari lembaga global Anti-Defamation League (ADL) yang berjudul “Hate and Harassment in Online Games”. Dalam data mereka, mayoritas gamer mengaku pernah mengalami atau meluapkan rasa frustrasi yang intens saat bermain game berbasis tim.
Secara psikologis, hal ini berkaitan dengan Teori Frustrasi-Agresi (Frustration-Aggression Hypothesis) yang dikembangkan oleh John Dollard dkk. Teori ini menyatakan bahwa ketika seseorang dihalangi untuk mencapai tujuannya, respons alami tubuh adalah memicu agresi. Dalam game kompetitif, Anda dipaksa bergantung pada performa orang asing yang acak di internet. Ketika Anda sudah bermain maksimal namun tetap kalah akibat kesalahan rekan tim yang tidak bisa Anda kontrol, otak merespons hilangnya kendali ini sebagai bentuk ketidakadilan, yang akhirnya meledak menjadi perilaku toxic.
