‎Mendidik Anak Generasi Alpha: Jangan Ganti Adab dengan Gadget

Kurniasih, M.Pd, Dosen Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS)
Kurniasih, M.Pd, Dosen Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS)
0 Komentar

‎ Menata Ulang Skala Prioritas: Adab Sebelum Ilmu

‎Dalam tradisi pendidikan Islam, para ulama terdahulu selalu menekankan sebuah kaidah emas: “Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” Jika kaidah ini ditarik ke konteks modern, maka maknanya menjadi: “Tanamkanlah adab sebelum engkau mengenalkan teknologi.”‎‎Kita sering kali bangga ketika melihat anak usia tiga tahun sudah mahir mengoperasikan YouTube atau memenangkan gim daring. Namun, kebanggaan itu keliru jika di saat yang sama sang anak berteriak membentak ibunya, tidak mau berbagi mainan, atau abai saat dipanggil orang tuanya.‎‎Kecerdasan digital tanpa fondasi adab hanya akan melahirkan generasi yang pintar secara otak, namun tumpul secara hati. Teknologi tanpa moralitas hanya akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang egois dan individualis.‎

‎ Tiga Langkah Membenteng Fitrah Anak

‎Bagaimana kita sebagai orang tua dan pendidik menyelamatkan Generasi Alpha ini? Tentu kita tidak bisa sepenuhnya menjauhkan mereka dari teknologi, karena itu adalah zaman mereka. Namun, kita bisa mengendalikannya melalui tiga langkah konkret:‎ ‎1. Pertama, Jadikan Rumah sebagai “Madrasah Keteladanan”. Anak adalah peniru ulung. Jangan tuntut anak meletakkan gawainya jika kita sendiri masih sibuk membalas pesan di meja makan atau saat menemani mereka bermain. Kurangi waktu layar (screen time) kita di depan anak.‎ ‎2. Kedua, Kembalikan Sentuhan dan Dialog. Al-Qur’an merekam banyak dialog antara orang tua dan anak, seperti Luqman kepada anaknya. Sering-seringlah mengajak anak mengobrol, menatap matanya, memeluknya, dan mendengarkan ceritanya. Ini akan membangun kecerdasan emosional dan spiritual yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh gawai tercanggih sekalipun.‎ ‎3. Ketiga, Kenalkan Allah Lewat Alam Nyata. Ajak anak keluar rumah. Biarkan mereka menyentuh tanah, melihat pohon, dan memandang langit. Katakan pada mereka, “Lihat, betapa indahnya bunga yang diciptakan Allah ini.” Pengalaman sensorik di alam terbuka jauh lebih kaya untuk menumbuhkan rasa syukur dan akidah ketimbang melihat gambar alam di layar gawai.‎‎‎ Penutup

0 Komentar