PEMANDANGAN ini tentu tidak asing lagi di sekitar kita: sebuah keluarga sedang makan bersama di restoran, namun suasana terasa senyap. Sang ayah sibuk dengan ponselnya, sang ibu asyik berselancar di media sosial, dan anak balita mereka duduk tenang dengan pandangan terkunci pada layar gawai yang memutar video animasi dengan warna-warni mencolok.
Anak itu tidak rewel, tidak berlarian, dan tampak sangat “penurut”. Namun, benarkah mereka sedang tenang, atau sebenarnya sedang mengalami “bius digital”?
Anak-anak yang lahir sejak tahun 2010 dikenal sebagai Generasi Alpha. Mereka adalah generasi pertama yang hidup di dunia di mana teknologi kecerdasan buatan, algoritma, dan layar sentuh hadir sejak mereka membuka mata. Bagi mereka, gawai bukan lagi alat bantu, melainkan “perpanjangan tangan”.
Baca Juga:Babak Pertama Ronaldo Cetak Dua Gol, Portugal Unggul atas Uzbekistan 3-0 di Piala Dunia 2026Cara Nonton Live Streaming Piala Dunia 2026 Portugal vs Uzbekistan
Di satu sisi, mereka adalah generasi yang cerdas secara digital. Namun di sisi lain, ada harga mahal yang harus dibayar jika kita lalai: terkikisnya adab dan hilangnya fitrah kemanusiaan.
Pengasuh Elektronik dan Hilangnya Empati Dalam kajian Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), usia emas (golden age) adalah masa kritis di mana anak menyerap stimulus dari lingkungan sekitarnya. Karakter, emosi, dan adab anak dibentuk melalui interaksi dua arah: tatap mata, sentuhan fisik, mendengar intonasi suara orang tua, dan melihat langsung bagaimana orang dewasa di sekitarnya berperilaku.
Ketika peran interaksi ini digantikan oleh gawai—yang sering kali dijadikan sebagai e-babysitter atau pengasuh elektronik agar anak tidak rewel—anak kehilangan kesempatan belajar bersosialisasi.Layar gawai adalah komunikasi satu arah. Ia tidak memiliki emosi. Akibatnya, anak-anak Generasi Alpha rentan mengalami penurunan empati, kesulitan mengendalikan emosi (gampang tantrum saat gawai diambil), hingga hilangnya sopan santun dasar seperti mengucap “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih”.Ketika anak lebih akrab dengan algoritma ketimbang senyuman ibunya, di sinilah krisis adab itu dimulai.”Adab tidak bisa diunduh melalui aplikasi, dan akhlak tidak bisa diajarkan oleh kecerdasan buatan. Keduanya hanya bisa menular lewat keteladanan yang nyata.”
