Sekitar 50 Ribu Buruh di Kabupaten Bekasi Terancam Gelombang PHK, Ini Penyebabnya

Sekitar 50 Ribu Buruh di Kabupaten Bekasi Terancam Gelombang PHK
Sekitar 50 Ribu Buruh di Kabupaten Bekasi Terancam Gelombang PHK
0 Komentar

KBEONLINE.ID KABUPATEN BEKASI – Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di kawasan industri Kabupaten Bekasi semakin nyata. Sekitar 50 ribu buruh disebut berada dalam posisi rawan kehilangan pekerjaan akibat perlambatan ekonomi global dan tingginya biaya produksi, terutama harga gas industri yang membebani sektor manufaktur.

Persoalan tersebut bahkan telah menjadi perhatian pemerintah pusat. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea membahas kondisi tersebut bersama Wakil Ketua DPR Sufmi, Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR, Cucun Ahmad Syamsurijal, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli. Salah satu perusahaan yang menjadi sorotan ialah PT Royalboard Banguninti Granito (Granito).

Di tingkat daerah, serikat buruh bergerak melakukan komunikasi intensif dengan manajemen perusahaan untuk mencegah gelombang PHK. Koordinator Aliansi Buruh Bekasi Melawan (BBM), Sarino, mengatakan ancaman efisiensi di Granito sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Mahalnya biaya produksi di dalam negeri disinyalir menjadi pemicu utama manajemen mulai kesulitan mempertahankan ritme operasional normal.

Baca Juga:UPTD PPA Karawang Pastikan Hak Pendidikan Siswi Korban Polemik di Cibuaya Tetap TerjaminDisdikbud Karawang Fokus Tingkatkan Infrastruktur Pendidikan, Targetkan Perbaikan 159 Titik Sekolah pada 2026

“Kalau untuk yang Granito emang itu sudah lama. Perusahaan punya wacana (efisiensi) karena biaya produksinya yang mahal di Indonesia, khususnya gitu. Jadi ya upaya-upaya sudah kita lakukan ke Granito,” ujar Sarino kepada Cikarang Ekspres, Selasa (30/6).

Menurutnya, faktor utama yang menjerat industri keramik dan ubin seperti Granito adalah ketergantungan yang tinggi pada komoditas gas. Ketika harga regulasi gas industri merangkak naik, margin keuntungan perusahaan otomatis tergerus tajam.

“Ada beberapa perusahaan, khususnya yang produk keramik ya. Kan dapurnya pake gas, dampaknya karena harga gas tinggi, sehingga secara kemampuan perusahaan berkurang,” tambahnya.

Tidak hanya sektor keramik, Sarino juga membeberkan bahwa badai ini mulai merembet ke sektor manufaktur otomotif. Bahkan, terdapat dua perusahaan otomotif besar di Bekasi yang sudah melontarkan wacana untuk merelokasi pabrik mereka ke Vietnam demi memangkas biaya operasional.

“Kurang lebih 50-an ribu ya, banyak sih, yang di Bekasi sendiri,” tambahnya.

Menghadapi situasi ini, serikat pekerja memilih mengambil langkah rasional. Buruh kini mengedepankan opsi dialog tripartit demi mencari jalan tengah yang saling menguntungkan (win-win solution). Fokusnya saat ini adalah bagaimana agar roda produksi pabrik tetap berputar tanpa harus menutup fasilitas operasional.

0 Komentar